Terdakwa Kasus Bank BOII Akui Tak Sendirian Berbuat

- Jurnalis

Senin, 5 Oktober 2020 - 17:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana Persidangan

Suasana Persidangan

BERITA JAKARTA – Sidang lanjutan kasus Bank Of India Indonesia (BOII) yang berubah nama menjadi bank Swadesi yang menyeret mantan Direktur BOII, Ningsih Suciati yang duduk sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri (PN), Jakarta Pusat.

Duduknya, Ningsih dikursi pesakitan menyusul adanya perlawanan dari debitur Rita pemilik PT. Ratu Kharisma (RK) terkait lelang kilat Villa Kozy di Seminyak Bali miliknya yang dilakukan pihak BOII yang telah merugikan dirinya selaku debitur baik melalui jalur hukum perdata maupun pidana.

Sebelumnya, berbagai upaya debitur tidak diindahkan kreditur selaku pemberi pinjaman kredit. Pemberitahuan lelang kelima, hanya berselang dua hari pada 12 Februari 2011. Kreditur merasa debitur sudah mau bangkrut. Oleh karenanya, harus cepat-cepat dituntaskan pelelangan agunan kredit Rp10,5 miliar tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Semua punya andil, setiap yang ada fungsinya, termasuk Direksi dan Komite Kredit. Saya keberatan kalau hanya saya dihadapkan pada proses hukum,” ungkap terdakwa Ningsih Suciati dimuka persidangan dalam pemeriksaan terdakwa, Senin (5/10/2020).

Selain itu, terdakwa berkeberatan kalau disebutkan hanya dirinya dengan Wakilnya, Anil Balla yang berperan hingga lelang Villa Kozy, bisa berlangsung super cepat hingga 5 kali, dikarenakan pihak debitur mengirim surat 3 kali untuk mohon restrukturisasi, karena dianggap debitur mau bangkrut.

Baca Juga :  Perkara Pidana Berubah Perdata, Pakar Hukum Sarankan Gelar Perkara Khusus

“Kredit cair 2 kali Rp6,5 miliar dan tanggal 18 Maret dengan jaminan Villa Kozy dan Rp4 miliar pada Maret – Juni 2008 dengan jaminan yang sama atas persetujuan Komite Kredit dan Prakash. Semua dewan Direksi dan Komisaris,” jelas Ningsih menjawab pertanyaan Majelis Hakim.

Terdakwa juga mengkui, bahwa perpanjangan kredit tahun 2009-2010 dengan jaminan yang sama. Namun permohonan restrukturisasi dan bisa jual sendiri ditolak oleh pihak BOII. Setelah itu, sesuai kesepakatan dengan Komite Kredit dan Komisaris kemudian dilakukan lelang dengan nilai apraisal awal Rp15,8 miliar.

Selanjutnya, kata Ningsih, pelelangan 1-4 tidak pernah terjadi, tidak ada peminat ditambah ada perlawanan dari debitur dengan 7 gugatan. Namun, lelang tetap dilakukan dengan harga Rp6,3 miliar Jauh dibawah nilai apraisal yaitu Rp15,8 miliar.

Dikatakan Ningsih, BOII menurunkan nilai agunan tanpa sepengetahuan debitur yang dimenangkan Sugiarto Raharjo. Meski demikian, hutang debitur belum dianggap lunas. Komite Kredit dan Komisaris meminta hutang itu tidak dianggap lunas dan harus ditagih terus kepada debitur Rita.

Baca Juga :  Dugaan Oknun Jaksa dan Oknum PN Jakut Sembunyikan Informasi Persidangan

Ketika Jaksa Penuntut Umum (JPU) nempertanyakan pemberitahuan lelang terakhir dari kreditur dan KPLKLN hanya dua hari sebelum tanggal lelang. Terdakwa Ningsih menjawab semua putusan bersama dan harus tanda tangan baik dari Komite Kredit, Komisaris maupun Direksi.

Demikian juga penurunan nilai agunan hingga Rp6,3 miliar, karena adanya kesepakatan bersama Wakil Dirut, Anil Balla. Peraturan BI, menurut terdakwa juga mengijinkan tanda tangan hanya berdua. Terdakwa juga mengakui seluruh Komisaris datang survey ke Villa Kozy di Seminyak Bali.

Namun, ketika ditanya JPU, apakah terdakwa selaku Dirut juga ke Bali?, Ningsing mengaku dirinya tidak ikut ke Bali. “Saya sudah diwakili oleh teman teman,” katanya.

JPU juga mempertanyakan kenapa BOII menyetujui dan mencairkan kredit atas apraisal yang ditujukan ke Bank Bumiputra dan bukan ke Bank Swadesi (BOII) dijawab terdakwa, semua surat peringatan ke PT. RK milik Rita, tidak ditanggapi. (Dewi)

Berita Terkait

Terdakwa Ahiang Bantah Barang Bukti Sabu-Sabu Miliknya
Perkara Pidana Berubah Perdata, Pakar Hukum Sarankan Gelar Perkara Khusus
Dugaan Oknun Jaksa dan Oknum PN Jakut Sembunyikan Informasi Persidangan
Oknum Jaksa Kejati DKI “Bebaskan” Enam Tersangka Penipuan Ratusan Miliar
Oknum Jaksa Peneliti Gugurkan Pidana, Ironis Penegakan Hukum di Indonesia
Keraguan Publik Terhadap Penanganan Korupsi RSUD Tigaraksa
Dugaan Pembagian Perkara, MNH Kena Sanksi 1 Tahun
JPU Tuntut Pidana Selegram Adam Deni Setahun Penjara
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 Mei 2024 - 18:40 WIB

PK Sengketa Merek, Ratusan Karyawan Polo Ralph Lauren Kembali Geruduk MA

Minggu, 19 Mei 2024 - 18:12 WIB

Quotient TV: Buruh PT. SKB di Sumsel Ditangkap Tanpa Surat Penahanan

Jumat, 17 Mei 2024 - 19:40 WIB

TEAM GARUDA-08 Bekasi Raya Kecam Rocky Gerung Hina Prabowo

Jumat, 17 Mei 2024 - 12:21 WIB

Warga Perumahan Grand Tarumaja Gugat Developer, BUMN Hingga Presiden

Kamis, 16 Mei 2024 - 23:22 WIB

Asset Sitaan KSP Indosurya Raib, Dirtipideksus Disomasi Para Korban

Kamis, 16 Mei 2024 - 08:26 WIB

Kasus Tambang, KSST Gelar Dialog “Korupsi Sambil Berantas Korupsi”

Rabu, 15 Mei 2024 - 17:05 WIB

Tanggapi Pernyataan Ahok Soal Pajak, Alvin Lim: Jago Kritik Tanpa Solusi

Rabu, 15 Mei 2024 - 16:55 WIB

Tak Kenal Lelah, Karyawan Polo Ralph Lauren Terus Cari Keadilan ke MA

Berita Terbaru

Podcats Quotient TV Bersama Alvin Lim, SH, MH

Berita Utama

Quotient TV: Buruh PT. SKB di Sumsel Ditangkap Tanpa Surat Penahanan

Minggu, 19 Mei 2024 - 18:12 WIB

Forum Wartawan dan LSM Nasrani Bekasi Raya

Seputar Bekasi

Polres Kabupaten Bekasi Didesak Usut Pengancaman Keluarga Pirlen Sirait

Minggu, 19 Mei 2024 - 17:52 WIB

Foto: Agus Budiono (Dewan Pembina TEAM GARUDA-08, Bekasi Raya

Berita Utama

TEAM GARUDA-08 Bekasi Raya Kecam Rocky Gerung Hina Prabowo

Jumat, 17 Mei 2024 - 19:40 WIB

SDN 02 Kebalen

Seputar Bekasi

Pasca Pemberitaan Proyek Conblock SDN 02 Kebalen Dadakan Pasang Plang

Jumat, 17 Mei 2024 - 17:13 WIB