Bola Panas Tragedi Kebakaran Gedung Kejaksaan Agung

Samuel F. Silaen

BERITA JAKARTA – Akademisi, pengamat sosial politik dan tokoh masyarakat memberikan pernyataan dan komentar terkait tragedi kebakaran gedung utama Kejaksaan Agung (Kejagung) Republik Indonesia beberapa waktu lalu.

Bak bola panas nan-liar, pro-kontra, polemik diseputar tragedi kebakaran gedung Adhyaksa itu, menimbulkan beragam opini publik yang bermunculan seperti jamur tumbuh di musim hujan.

“Opini panas terus berkembang terkait penyebab terjadinya kebakaran gedung Kejaksaan Agung tersebut,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana), Samuel F. Silaen di Jakarta, Rabu (26/8/2020).

Perdebatan panas pun, sambung Silaen, dari beberapa elite politik dan tokoh tak terhindarkan terjadi diruang publik, berseliweran jadi tontonan rakyat, berbagai analisa sesuai dengan keilmuan, pengalaman dan latar-belakang akademisi, pengamat dan masyarakat umum turut berkomentar miring.

Silaen berpandangan, bahwa pengungkapan kasus kebakaran gedung Kejaksaan Agung ini tak akan bisa diungkap tuntas. Begitu juga dengan pandangan pengamat lainnya. Karena, berhadapan langsung dengan kekuatan yang selama ini bermain di balik kasus- kasus besar.

“Tragedi kasus kebakaran Kejaksaan Agung itu kuat diduga publik bagian dari sabotase dan teror karena Kejaksaan Agung sedang menangani kasus yang melibatkan para ‘penggede’ dalam ‘big’ kasus yang sedang ‘hot’ yang sedang diproses di Kejaksaan Agung. Sebut saja, salah satunya kasus Djoko Tjandra,” ungkapnya.

Dikatakan Silaen, kasus Djoko Tjandra ini terbilang rumit dan ruwet karena melibatkan banyak aktor yang dulunya berada dalam pusaran kekuasaan politik negeri ini. Kasus ini bukan kasus Djoko Tjandra semata.

Namun, ada pelaku yang lain turut terlibat, mana mungkin Djoko Tjandra bisa buron selama puluhan tahun tanpa ada yang melindunginya dari yang punya kekuatan dan akses politik tingkat tinggi.

“Mungkin sekarang, mereka-mereka yang dulu ada didalam pusaran kekuatan politik saat terjadinya kasus cassie Bank Bali, ada sudah pensiun atau mungkin saja sudah beristirahat tenang (almarhum). Dugaan, bahwa kaki tangan atau antek-anteknya masih ada yang bercokol dilingkarkan kekuasaan,” jelasnya.

Tak mungkin, sambung Silaen, semuanya punah karena kasus Djoko Tjandra ini terbilang nyentrik dan penuh intrik politik tingkat tinggi pada masanya. Jika tidak mana mungkin bisa rapi kasus Djoko Tjandra ini.

“Kebakaran gedung Kejaksaan Agung merupakan teror keras kepada Kejaksaan Agung dari para pihak-pihak pelaku yang terlibat dalam kasus cassie Bank Bali. Kalau tak menyerempet orang yang sedang berkuasa atau punya akses kekuasaan, maka tak mungkin tragedi kebakaran gedung Kejaksaan Agung itu sederamatis yang kita tonton ini,” ujarnya.

Silaen pun, ancungkan dua jempol jika kasus yang membelit Djoko Tjandra ini bisa tuntas menjerat otak intelektual-nya, terjadinya kasus hak cassie Bank Bali ini. Menurut Silaen, Djoko Tjandra hasil pion yang diumpankan atau ditumbalkan dalam kasus hak tagih bank Bali tersebut.

Kasus korupsi hak tagih bank Bali ini, dugaan Silaen hanya berhenti di Djoko Tjandra, jenderal polisi yang lagi apes dan tak akan sampai tuntas menjerat otak intelektual dari kasus cairnya uang miliaran dari hak tagih bank Bali tersebut.

“Djoko Tjandra, bernyanyilah yang kencang dan nyaring hingga bisa didengar oleh telinga Presiden Joko Widodo didalam Istana,” tegas Silaen.

Kasus tragedi kebakaran gedung Kejaksaan Agung itu bagian dari teror dan percobaan penghilangan barang bukti kasus- kasus besar yang melibatkan elite penguasa atau orang kuat yang saat ini masih ada dilingkarkan kekuasaan.

Polisi Republik Indonesia harus mampu mengungkap dan membongkar kemana aliran dana atau larinya uang Rp546 Miliar yang masuk ke Rekening PT. EGP itu, sampai sekarang belum pernah diungkap ke publik! Siapa yang menikmati uang hak tagih bank Bali tersebut?

“Apakah Polri dapat menuntaskan kasus hak tagih bank Bali, kita tunggu saja, yang menjadikan Djoko Tjandra jadi pesakitan (tersangka), hingga dia kabur- kaburan, karena merasa dia bersalah. Jika saja Djoko Tjandra yang menikmati uang tersebut pastilah dia takkan kabur-kaburan,” pungkasnya. (Mul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *