Kementan RI Kawal Produksi Cabai Bersama Pemerintah Daerah

- Jurnalis

Selasa, 7 Juni 2022 - 10:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perkebunan Cabai

Perkebunan Cabai

BERITA JAKARTA – Produksi cabai kerap berfluktuasi akibat kondisi cuaca alam. Faktor ini sangat berpengaruh di hampir semua produksi pertanian. Terlebih kadang kondisinya tidak sesuai dengan prediksi.

Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang menyerang pertanaman cabai umumnya busuk buah dan layu fusarium. Jika terjadi hujan ekstrem bisa mengakibatkan bunga rontok yang berujung pada gagalnya menjadi buah.

Selain itu, gagal panen juga dapat disebabkan oleh tumbuhnya jamur seperti antraknosa dan phythoptora.

Dengan demikian perlu disiasati dengan penerapan teknologi yang tepat agar usaha pertanian tetap memberikan hasil yang menguntungkan.

Keunikan kondisi alam ini diungkapkan oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) agar tidak dijadikan kendala dalam menjaga produksi pangan tetap aman.

Kerahkan segala upaya agar produksi terjaga, bermutu dan berkualitas. Dalam hal ini teknologi rain shelter menjadi salah satu solusi untuk menjaga produksi dan produktivitas tanaman cabai di musim hujan.

“Rain shelter merupakan atap sungkup dari plastik UV yang dipasang menggunakan kerangka bambu, besi dan sejenisnya di atas pertanaman cabai,” ujar Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto dalam pesan suara, Senin (6/2022).

Penggunaan rain shelter pada pertanaman cabai di musim hujan memberikan banyak manfaat diantaranya petani menjadi lebih tenang karena tanamannya terlindungi dari guyuran air hujan secara langsung sehingga bunga tidak rontok dan buah tidak busuk.

“Kelembapannya pun terjaga sehingga dapat mencegah serangan penyakit yang sangat ditakuti petani yakni antraknosa dan phythoptora,” sambungnya.

Penggunakan rain shelter ini, terang Prihasto, pada umumnya sama dengan budidaya cabai biasa, namun disarankan dalam satu bedengan hanya satu baris tetapi jarak tanamnya lebih rapat. Tujuannya untuk mengurangi populasi hama thrips.

Salah satu kelemahan budidaya cabai dengan rain shelter memang serangan thripsnya lebih banyak makanya tetap perlu penyiraman dan 20 hari sekali plastik UV harus digulung. Pengendalikan thrips lebih gampang dibandingkan antraknosa.

“Pengendalian thrips lebih mudah, disemprot dengan air biasa juga bisa sekaligus untuk penyiraman,” imbuhnya.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha menghimbau petani dapat menggunakan teknologi tersebut sehingga produksi tidak terkendala oleh musim. Dengan demikian petani bisa menanam cabai tanpa khawatir merugi meskipun musim hujan.

“Untuk pengendalian OPT diharapkan petani menggunakan bahan pengendali OPT yang ramah lingkungan seperti trichoderma SP dan perangkap likat. Penggunaan bahan pengendali ramah lingkungan terus disosialisasikan ke petani. Petugas POPT telah melatih petani cara membuat bahan pengendali ramah lingkungan,” jelas Tommy.

Curah hujan pada periode April-Mei 2022 cenderung lebih tinggi dibandingkan periode April-Mei 2021. Tercatat pada April 2021 curah hujan 194,8 mm dan April 2022 curah hujan 215,6 mm.

Hal ini secara tidak langsung menyebabkan peningkatan serangan OPT Phytophthora SP penyebab penyakit busuk daun pada cabai dan juga penyakit antraknosa.

Berdasarkan data dari Petugas Pengendali OPT (POPT) di daerah yang direkapitulasi oleh Direktorat Perlindungan Hortikultura, luas keadaan serangan OPT busuk daun dan antraknosa pada periode April-Mei 2022 meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2021.

Pada April 2021 serangan OPT busuk daun seluas 16,23 hektare. Angka ini pada April 2022 naik menjadi 298,71 hektare. Sementara serangan antraknosa pada April 2021 seluas 1.294 hektare dan menurun pada 2021 seluas 1.122 hektare.

Terkait kondisi dilapangan dimana kondisi hujan yang belakangan secara intensif mengguyur sebagian besar sentra cabai, Kementerian Pertanian (Kementan) tengah berkoordinasi serius ke UPTD Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH).

Hal itu dilakukan untuk melakukan tindakan pengendalian berupa gerakan pengendalian di wilayah yang terdampak menggunakan bahan pengendali yang ramah lingkungan.

Kegiatan dimaksud antara lain penyemprotab menggunakan bahan pengendali ramah lingkungan berupa Plant Growth Promoting Rhizobacteria, aplikasi Trichoderma, pestisida nabatidan bahan pengendali ramah lingkungan lainnya.

Selain itu, laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit dan Klinik PHT di tingkat kecamatan juga terus memproduksi bahan pengendali ramah lingkungan yang digunakan oleh Petugas POPT dalam membantu petani mengendalikan permasalahan OPT dilapangan. (Sofyan)

Berita Terkait

Kasus TPPU Senilai Rp846 Miliar Febrie Adriansyah Segera Dilimpahkan
Apresiasi Kinerja KPK, AKHERA Ingatkan Kepastian Hukum dan Keadilan
Pegawai Kejaksaan RI Kelola BPA Diragukan
Peran Agung Winarno Tutupi Asal Usul Harta Makelar Kasus Zarof Ricar
Akankah BS Kembali Lolos di Kasus Ijon Proyek Jilid 2 Kabupaten Bekasi
AKHERA Apresiasi KPK Buka Ijon Proyek Jilid 2 Kabupaten Bekasi
Kasus WC Sultan Beny Sugiarto Saksi Ijon Proyek Mengantung di KPK
Akankah Eks Menpora Dito Bakal Bongkar Patgulipat Perkara Kouta Haji?

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 19:20 WIB

Kasus TPPU Senilai Rp846 Miliar Febrie Adriansyah Segera Dilimpahkan

Selasa, 15 September 2026 - 18:41 WIB

Apresiasi Kinerja KPK, AKHERA Ingatkan Kepastian Hukum dan Keadilan

Senin, 14 September 2026 - 21:37 WIB

Pegawai Kejaksaan RI Kelola BPA Diragukan

Senin, 14 September 2026 - 16:33 WIB

Peran Agung Winarno Tutupi Asal Usul Harta Makelar Kasus Zarof Ricar

Jumat, 11 September 2026 - 11:40 WIB

Akankah BS Kembali Lolos di Kasus Ijon Proyek Jilid 2 Kabupaten Bekasi

Berita Terbaru

Photo: Walikota Bekasi: Tri Adhianto

Seputar Bekasi

Ini Kata Aktivis JNW Soal Himbauan Donasi Walikota Bekasi ke Sekolah

Kamis, 17 Sep 2026 - 14:46 WIB