BERITA SUKABUMI – Konferensi Daerah (Konferda) DPD GMNI Jawa Barat yang dilaksanakan pada 20–22 September 2026 di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, telah menetapkan Anggi Fauzi, S.IP dari DPC GMNI Sukabumi Raya sebagai Ketua DPD GMNI Jawa Barat periode 2026–2028.
Konferda kali ini tidak semestinya dibaca hanya sebagai forum pergantian kepemimpinan. Dari Lembang, GMNI Jawa Barat sedang membuka lembaran baru membangun kembali organisasi, menghidupkan kembali gerakan dan mengejar ketertinggalan yang terlalu lama dibiarkan.
Menurut Anggi Fauzi, Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI) Jawa Barat hadir dengan gaya baru yang sudah lama tidak ada.
“Gaya baru bukan berarti meninggalkan watak perjuangan GMNI. Justru sebaliknya, gaya baru adalah keberanian untuk kembali kepada kerja-kerja organisasi yang nyata. Kaderisasi yang hidup, struktur yang bergerak, komunikasi yang kuat, serta keberanian membawa GMNI kembali hadir ditengah persoalan rakyat,” ujar Anggi usai terpilih sebagai Ketua DPD GMNI Jawa Barat periode 2026–2028.
Menurut Anggi, kepemimpinan kedepan akan menghadapi pekerjaan besar. Ada struktur yang harus diperkuat, ada kader yang harus kembali dirangkul, ada ruang-ruang organisasi yang harus dihidupkan kembali dan ada ketertinggalan gerakan yang harus dikejar.
“Karena itu, konsolidasi gerakan menjadi agenda pertama. Konsolidasi tidak boleh berhenti pada rapat, forum, atau pertemuan seremonial. Konsolidasi harus menjadi proses untuk menyatukan kembali energi kader dan struktur GMNI Jawa Barat,” ucapnya.
Dikatakan Anggi, DPD GMNI harus kembali hadir sebagai rumah bersama bagi cabang-cabang, bukan sekadar sebagai struktur administratif.
“Konsolidasi atap dan tengah harus berjalan bersamaan. Atap harus kuat agar mampu memberikan arah. Tengah harus hidup agar mampu menerjemahkan arah itu menjadi kerja organisasi. Jika atap dan tengah tidak terkonsolidasi, maka gerakan akan terus berjalan sendiri-sendiri,” tuturnya.
Anggi berujar, DPD GMNI Jawa Barat periode 2026–2028 harus membangun komunikasi dan koordinasi yang lebih rapat dari tingkat DPD, DPC, hingga seluruh basis kader. Kepemimpinan baru juga harus berani mengembalikan mereka yang selama ini tidak aktif.
“Kader-kader yang pernah tumbuh, struktur yang pernah hidup dan jaringan yang pernah menjadi kekuatan GMNI Jawa Barat tidak boleh dibiarkan menjadi sekadar catatan sejarah. Mereka harus dipanggil kembali, dirangkul kembali dan diberikan ruang untuk kembali berkontribusi dalam kerja-kerja organisasi,” cetusnya.
Sebab, lanjut Anggi, membangun GMNI Jawa Barat bukan selalu tentang menciptakan sesuatu dari nol. Kadang yang paling mendesak adalah membangunkan kembali apa yang pernah hidup.
“Inilah pekerjaan besar kedepan bersama jajaran DPD GMNI Jawa Barat periode 2026–2028, menghidupkan yang mati, menyatukan yang tercerai, memperkuat yang lemah dan mengejar ketertinggalan gerakan,” ungkapnya.
Anggi menegaskan, GMNI Jawa Barat tidak boleh hanya hadir ketika ada momentum.
“GMNI harus hadir dalam denyut persoalan masyarakat Jawa Barat. Persoalan pendidikan, ketenagakerjaan, agraria, ekonomi, demokrasi, lingkungan dan berbagai persoalan rakyat harus kembali menjadi ruang kerja organisasi,” tegasnya.
Lebih jauh Anggi mengatakan, kader tidak cukup hanya berkumpul. Kader harus bergerak. Struktur tidak cukup hanya ada. Struktur harus bekerja.
“Dan kepemimpinan tidak cukup hanya memiliki jabatan. Kepemimpinan harus mampu menggerakkan seluruh kekuatan organisasi. Konferda di Lembang menjadi titik awal untuk itu semua,” ujarnya.
Dari Lembang, GMNI Jawa Barat menegaskan bahwa periode 2026–2028 harus menjadi periode konsolidasi, pemulihan dan percepatan gerakan. Bukan sekadar mengejar ketertinggalan administratif, tetapi mengejar kembali posisi GMNI sebagai organisasi kader yang memiliki keberanian berpikir, keberanian bersikap dan keberanian bergerak.
Sebagai Ketua terpilih, bukan hanya menerima mandat kepemimpinan, tapi juga menerima pekerjaan rumah besar untuk membangunkan kembali mesin gerakan GMNI Jawa Barat.
“Maka setelah Konferda selesai, tidak ada alasan untuk kembali tidur. Forum boleh selesai, kepemimpinan boleh berganti, tetapi perjuangan baru saja dimulai. Dari Lembang, satu pesan dibawa pulang,” pungkasnya. (Eka Lesmana)






