Hadiah Fenomenal Reformasi 1998 Hingga Kembali ke Neo Orde Baru! 

- Jurnalis

Senin, 20 Mei 2024 - 14:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Samuel F Silaen

Foto: Samuel F Silaen

BERITA JAKARTA – Hadiah reformasi yang sangat fenomenal dan anomali kita peringati setelah 26 tahun reformasi, untuk memperingati hari kebangkitan Nasional Indonesia ke-116 diluar dugaan semua orang yang waras dan tidak lupa sejarah kelam masa lalu.

“Kini kita kembali ke Neo Orde Baru yang wataknya 11-12. Kita tunggu babak selanjutnya dibawah kekuasaan Pemerintah terpilih,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana), Samuel F Silaen kepada Matafakta.com, Senin (20/5/2024).

Menurut riset yang menyatakan bahwa tingkat IQ orang Indonesia hanya 78, 49 menduduki peringkat ke 129. Hal ini dianggap rekayasa oleh segelintir orang yang tidak mau menerima hasil riset tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Anak muda saat ini tergolong miskin pengalaman dan rendah pemahaman akan sejarah kelam bangsa ini, ditambah malas membaca buku-buku, ini pendapat saya kutip yang termuat didalam pemberitaan media,” ujar Pengamat Politik ini.

Miris memang, lanjut Silaen, bila ada orang bisa sampai lupa masa lalu, hanya karena dia saat ini hidupnya enak buah dari reformasi tahun 1998, sebelumnya mungkin saja demonstran, namun karena saat ini menikmati keuntungan, lalu ‘diam-diam bae’.

Baca Juga :  Proyek Patuha-Dieng, Komisi Hukum DPR RI Bakal Panggil Petinggi PT. Pertamina

“Atau mungkin saja bersifat kontra pandangan politik terhadap pandangan para profesor dan cendekiawan yang lagi-lagi masih waras,” sindir Aktivis Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) itu.

Perbedaan kontras terlihat jelas, bagaimana hukum harus tunduk dan dikalahkan oleh kekuasaan. Artinya hukum itu disesuaikan dengan keinginan penguasa meskipun harus meabrak aturan sana-sini.

“Saat ini, orang tertentu masih seperti tertidur pulas, karena termasuk penikmat kue kekuasaan rezim saat ini. Ingat hukum tabur tuai maka akan tiba saatnya gelombang badai itu menghampiri yang saat ini pura- pura lupa,” imbuhnya.

“Akibat Negara salah urus itu akan memakan korban rakyat yang papah. Negara atau bangsa yang kaya raya tapi rakyatnya miskin, ini tentu karena terjadi perampokan harta warisan bangsa yang luar biasa dan yang menikmati hanya segelintir orang saja,” ulasnya.

“Segelintir orang itu yang berada dilingkaran kekuasaan. Jelas ini bukti salah urus, sehingga menimbulkan berbagai dampak serius terhadap kelangsungan hidup rakyat banyak. Bagi yang masih berkuasa tentu tidak langsung terkena imbas,” tambahnya.

Baca Juga :  38 Orang Tewas, 9 Terdakwa Kasus Depo Pertamina Dituntut 4 Bulan Penjara

Seperti, kata Silaen, kenaikan harga kebutuhan pokok dan lain-lain yang semakin mencekik leher masyarakat Indonesia. Tentunya tidak langsung berdampak kepada Aparatur Pemerintah, sebab pejabat dan Aparatur Sipil digaji dari pungutan pajak.

“Beda dengan rakyat kecil atau kaum proletar yang hidupnya bisa makan kalau bekerja, atau terhitung sebagai pekerja harian lepas atau PHL, kalau tidak kerja maka tidak makan,” tuturnya.

Pendapatan mereka tidak bisa langsung naik meskipun inflasi merangkak naik tinggi, beda dengan Aparatur Negara bisa langsung diperintah naik, karena menggunakan Anggaran Pemerintah APBN maupun APBD.

Masih kata Silaen, hadiah reformasi tahun 1998 yang terbesar itu ialah menjadikan Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan keluarganya berkuasa. Dan kerusakan era reformasi terjadi sangat masif dibawah rezimnya Presiden Jokowi.

Karena, tambah Silaen, rakyat Indonesia banyak yang tertipu karena pencitraan yang dilakukan oleh sosok Jokowi. Sehingga watak aslinya baru ketahuan setelah berkuasa.

“Ketidakmampuan dalam menahan nafsu syahwat politiknya, menjerumuskan kembali negeri ini kedalam jurang penindasan terhadap rakyat yang tak berdaya secara ekonomi dan politik,” pungkasnya. (Indra)

Berita Terkait

Kasus Vina Cirebon Vs Jessica Bukti Penegakan Hukum Sudah Rusak
Langgar Kode Etik, BK DPD-RI Diminta Berikan Sangsi Tegas LaNyalla
Pakar: Pemain Judi Online Adalah Pelaku Kejahatan Bukan Korban Judol
Asset Sitaan Raib, Oknum Brigjen Whisnu Hermawan di Adukan ke Presiden
Banding KPK Diterima, Mantan Hakim Agung Gazalba Saleh Kembali Diadili
Penyidikan Perkara Korupsi PT. PGN Terus Berkembang
Jauh Dari Target 80 Senator, Deklarasi Paket Pimpinan DPD-RI LaNyalla Dinilai Gagal
Penderita Kanker Warga Kabupaten Bekasi Harapkan Pemerintah Buat Rumah Singgah
Berita ini 83 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 25 Juni 2024 - 07:28 WIB

Kejari Kabupaten Bekasi Diminta Tangkap Mantan Dirut Perumda Tirta Bhagasasi

Senin, 24 Juni 2024 - 11:00 WIB

Waduh…!!!, Perusahaan Daftar Hitam UI Menangkan Lelang di Kota Bekasi 

Senin, 24 Juni 2024 - 09:54 WIB

Ini Kata Delvin Chaniago Soal Rencana Penyuluhan Petugas Damkar Kota Bekasi

Senin, 24 Juni 2024 - 08:53 WIB

Soal Pembatalan Proyek PSEL, JNW: Bisa Aja Mantan Walikota Bekasi Ngelesnya!

Minggu, 23 Juni 2024 - 09:45 WIB

FKMPB: Peran Kepala Bidang di Dinas Kabupaten Bekasi Mandul  

Jumat, 21 Juni 2024 - 23:19 WIB

Bentuk Dinasti, LSM LIAR Desak Inspektorat Audit Desa Pantai Harapan Jaya

Jumat, 21 Juni 2024 - 13:51 WIB

Pj Walikota Bekasi Raden Gani Resmi Batalkan Proyek PSEL Kota Bekasi

Jumat, 21 Juni 2024 - 12:42 WIB

Harus Pulangi Rp4,7 Miliar, JNW: Proses Hukum Menanti Dispora Kota Bekasi     

Berita Terbaru

Foto: Alvin Lim, SH, MH

Berita Utama

Kasus Vina Cirebon Vs Jessica Bukti Penegakan Hukum Sudah Rusak

Selasa, 25 Jun 2024 - 18:32 WIB

Deklarasi Paket Pimpinan DPD-RI 2024-2029

Berita Utama

Langgar Kode Etik, BK DPD-RI Diminta Berikan Sangsi Tegas LaNyalla

Selasa, 25 Jun 2024 - 18:09 WIB

Foto: Menkoinfo Budi Arie Setiadi (Kiri) dan Pakar Hukum, Abdul Fickar Hadjar (Kanan)

Berita Utama

Pakar: Pemain Judi Online Adalah Pelaku Kejahatan Bukan Korban Judol

Selasa, 25 Jun 2024 - 17:49 WIB