Catatan Hukum Prof. Otto Cornelis Kaligis Soal Pluralisme

  • Bagikan
Foto: Advokat Senior Prof. OC Kaligis

BERITA JAKARTA – Polemik rencana pembangunan Gereja di Cilegon Banten seolah menafikan perbedaan keyakinan suatu umat beragama. Padahal, negara ini bisa bersatu karena perbedaan serta saling menghargai.

“Lalu, mengapa Walikota Cilegon yang katanya penganut Pancasila, masih mempraktekkan diskriminasi terhadap penganut bukan Islam?,” terang Pengacara Senior OC Kaligis, Rabu (21/9/2022).

Bukan itu saja, kata OC, tindakan Walikota Cilegon yang menjadi sorotan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, dunia Peradilan pun sudah sangat terpengaruh oleh lahirnya gerakan agama yang diverpolisiter.

“Diera Orde baru, saya sebagai advokat Katolik, bahkan pernah turut membela panglima Negara Islam Indonesia saudara, Adah Djaelani bahkan kami akrab bersahabat tidak terdapat sekat-sekat karena beda Agama,” ucap OC.

Dikatakan OC, dirinya biasa hidup bersama keluarga beda agama. Neneknya garis ibu beragama Islam dengan seorang suami Kristen. Sementara, Opa-nya adalah seorang Jaksa Belanda. Mereka berdua rukun sampai mati.

“Keluarga saya sebahagian Islam sebahagian Kristen. Kita hidupnya rukun-rukun saja, karena saling menghargai dan menghormati,” jelas OC.

Menurut OC, demokrasi orde reformasi, tidak lagi mengenal kata sopan santun sesuai kepribadian bangsa Indonesia yang dikenal ramah dalam bertutur kata.

“Saya mengerti mengapa Presiden Soekarno tidak menyetujui demokrasi liberal, demokrasi bebas tanpa batas,” ungkapnya.

Masih kata OC, impian Presiden Soekarno sempat dijalankan oleh Presiden Soeharto, membatasi provokasi-provokasi para pembangkang berdirinya NKRI melalui Undang-Undang Subversif.

“Security Act dilaksanakan di Singapura, Malaysia bahkan Hongkong yang begitu bebas, sekarang dibatasi haknya oleh Pemerintah Cina,” tuturnya.

Dia menambahkan, dirinya tidak dapat membayangkan berapa besar biaya negara yang dikeluarkan untuk mengamankan para pendemo yang terkadang merusak sarana-sarana publik.

“Runtuhnya Twin Tower di Amerika oleh para teroris, dimulai dengan pembiaran para anarkis di mesjid-mesjid di Amerika, dalam rangka kebebasan berbicara, untuk memprovokasi para kelompok jihad melawan Amerika,” pungkasnya. (Sofyan)

Baca Juga  Peduli Pengusaha Lokal, PP, GMPI dan Cakra Bekasi Demo PT. Hankook
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *