Korban KSP Indosurya Kecewa Dengan Kinerja Mabes Polri

Foto: Alvin Lim Bersama Artis Patricia Gouw

BERITA JAKARTA – LQ Indonesia Law kembali bersuara atas tumpulnya penyidikan Mabes Polri dalam menanggani kasus Operasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya yang telah berhasil meraup dan menipu uang masyarakat dengan nilai yang fantastis yakni sebesar Rp15 triliun.

Pada Selasa 12 April 2022, para korban KSP Indosurya didampingi Kuasa Hukum dari LQ Indonesia Law Firm mendatangi Mabes Polri untuk meminta klarifikasi dan jawaban atas penanganan penyidikan kasus KSP Indosurya yang berbanding terbalik dengan penanganan kasus Indra Kenz.

Sebelumnya, salah satu korban KSP Indosurya, artis Patricia Gouw mengungkapkan kekecewaannya terhadap penanganan atau kinerja para penyidik Mabes Polri dalam kasus KSP Indosurya yang sudah berlarut – larut bahkan sejak awal penangkapan kaitan lolosnya satu tersangka petinggi KSP Indosurya, Suwito Ayub.

“Sabar ya Vanessa Khong, I know you will feel annoyed. Nah kalo kasus Indosurya Rp15 triliun, ini malah nggak diusut, malah media selalu naekin kamu, sabar ya.”

Komentar Patricia Gouw, ditanggapi Vanessa Khong dalam instagramnya “kasus Rp15 triliun, sama sekali nggak diusut. Kenapa malah dijadikan tersangka,” Curhat Vanessa Khong yang merasa hukum tajam sebelah.

Di depan Mabes Polri, Ketua Pengurus LQ Indonesia Law Firm, Alvin Lim, SH, MSC, CFP, CLA dengan tegas menuding bahwa sekarang banyak oknum jenderal-jenderal di Mabes Polri banci, karena beraninya sama kriminal kelas teri, tapi dalam menangani kasus KSP Indosurya yang nilainya triliunan tumpul.

“Kasus Indra kenz yang kerugian cuma puluhan miliar, pacarnya saja dijadikan tersangka. Sementara dalam kasus Henry Surya pemilik KSP Indosurya istrinya yang ada tas hermes senilai Rp10 miliar saja tidak pernah diperiksa dan tidak ada penyitaan, apalagi tersangka,” tegas Alvin, Selasa (12/4/2022).

Lebih aneh lagi, sambung Alvin, Surya Effendy yang namanya selalu ada dalam setiap aliran dana KSP Indosurya, boro-boro dijadikan tersangka. Begitu juga dengan kasus Mahkota juga dimana terlapor Raja Sapta Oktohari (RSO), Mabes Polri dan Polda Metro Jaya (PMJ) tidak berani menetapkan tersangka.

“Padahal, jelas video Raja Sapta Oktohari jualan dan mengiming-iming orang untuk masuk, sama persis dengan video Indra Kenz. Kasus KSP Sejahtera Bersama kerugian triliunan juga dengan modus yang sama persis dengan KSP Indosurya sampai sekarang sudah hampir 2 tahun, para terlapor dan pelaku tidak dijadikan tersangka,” ungkap Alvin kecewa.

Singkat kata, banyak oknum jenderal Polri jaman sekarang tidak punya nyali untuk membela masyarakat dan menegakkan hukum. Mereka lakukan pencitraan dengan menangkap kriminal kelas teri dan pers release setiap hari di media, seolah-olah kerja keras, padahal kriminal kakap tiap hari dijadikan ATM berjalan dan bertahun-tahun tidak ditahan.

“Lalu. Kapolri dan Kadiv Propam yang bilang lapor jika ada oknum Polri, hanya omong kosong, buktinya kami Kuasa Hukum korban KSP Indosurya sudah lapor Propam Presisi atas 2 oknum jenderal Mabes, namun sampai sekarang Propam tidak pernah panggil pengadu untuk klarifikasi. Bukti tidak ada jeruk makan jeruk. Bukti Presisi berkeadilan hanya pepesan kosong,” sindir Alvin.

Malah sebaliknya, lanjut Alvin, salah satu korban investasi bodong besutan Raja Sapta Oktohari (RSO), Alwi Susanto digugat balik oleh RSO senilai Rp200 miliar ke Pengadilan Negeri (PN) Tangerang atas pencemaran nama baik yang dilakukan, Alwi Susanto di media massa.

“Saya sudah lapor Polisi sebagai korban skema ponzi, manggil terlapor RSO aja Polri tidak berani. Sekarang saya malah digugat balik oleh RSO. Saya hanya bisa pasrah dan menghubungi LQ di 0817-489-0999 dan berharap LQ Indonesia Law Firm bantu kami sebagai korban skema ponzi yang dizolimi,” ucap Alwi.

“Penyidik Polda malah berusaha menjadikan korban sebagai tersangka. Padahal Raja Sapta Oktohari 6 kali undangan klarifikasi tidak hadir dan penyidik tidak berkutik. Bingung saya sama polisi jaman sekarang,” sambung Alwi.

Advokat Alvin Lim kembali menambahkan, dijaman Jokowi adalah kejatuhan reputasi polisi paling parah. Hukum diputer balik, pertama dalam sejarah Indonesia, RSO terlapor pemilik perusahaan yang diduga menipu Rp8 triliun tidak diproses hukum, justru korban digugat Rp200 miliar untuk diintimidasi.

“Kemana Polri, katanya pengayom dan pelindung? Korban datang mau ketemu Kapolda Metro Jaya minta perlindungan hukum, tidak ditanggapi. Padahal, kuasa hukum RSO dengan angkuh pamer kekuatan dan kedekatan dengan para jenderal Polri dan dengan gagah berkata bahwa Polisi bisa dikordinasikan, terbukti dari media sosial anaknya memamerkan foto jalannya gelar perkara tertutup di Itwasda PMJ,” ungkap Alvin.

Masyarakat perlu tahu dibalik gencarnya pencitraan Polri dalamnya banyak oknum Polri yang tersandera konflik kepentingan dan bekerjasama dengan oknum kriminal, tidak terkecuali oknum penipu skema ponzi. Yang besar-besar selalu tidak jelas aset sitaannya dan bahkan pelaku selalu ada yang dibuat kabur, seperti Suwito Ayub dalam kasus KSP Indosurya.

“Ternyata dibalik penyidikan penuh modus dan permainan seperti hilangnya barang sitaan. Korban investasi bodong ditipu dua kali, pertama oleh perusahaan sekam Ponzi, kedua oleh oknum Aparat. That is the real truth,” pungkas Alvin kecewa. (Sofyan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *