AMPUH Prihatin Kabar Kematian Balita Raya Warga Sukabumi

- Jurnalis

Rabu, 20 Agustus 2025 - 22:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Balita Raya

Foto: Balita Raya

BERITA JAKARTA – “Presiden Prabowo Subianto dengan garangnya berucap siap mati untuk Bangsa dan Negara apakah hanya sebatas omon-omon belaka bila melihat kasus kematian balita perempuan beranama Raya di Sukabumi”.

Hal tersebut dikatakan, Sekjen Aliansi Masyarakat dan Pemuda Nusantara Merah Putih (AMPUH), Heru Purwoko, menyoroti kematian Raya yang baru berusia 4 tahun yang dalam perutnya terdapat 1 kilogram cacing.

“Balita Raya yang harus meregang nyawa saat penguasa di Republik ini tengah berpesta pora,” sindir Heru kepada Matafakta.com, Rabu (20/8/2025).

Tragisnya, Raya balita yang meregang nyawa tersebut tinggalnya tak begitu jauh dari wilayah kediaman Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Jawa Barat, akibat minimnya penanganan medis.

“Apakah balita Raya akan menjadi anak bangsa terakhir yang kurang mendapat perhatian dan penanganan atau akan ada lagi raya-raya yang lain yang harus mati, karena keadaan ekonomi,” tandasnya.

Sebelumnya, lebih dari 1 kilogram cacing hidup dikeluarkan dari tubuh seorang balita perempuan bernama Raya sebelum akhirnya meninggal dunia.

Kisah memilukan ini terjadi di Kampung Pasir Ceuri, Desa Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Video yang diunggah lembaga Filantropi Rumah Teduh memperlihatkan betapa mengerikannya kondisi Raya saat dirawat.

Dari hidungnya, dokter menarik cacing gelang sepanjang 15 sentimeter dalam keadaan masih hidup. Cacing juga keluar dari mulut, kemaluan, hingga anusnya.

“Sudah lebih dari 1 kilogram cacing dikeluarkan dari badannya, tapi tidak juga habis-habis,” demikian kutipan dalam video yang viral tersebut.

Raya pertama kali masuk ke IGD RSUD Syamsudin SH Kota Sukabumi pada 13 Juli 2025 sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu, kondisi Raya sudah tidak sadarkan diri sejak sehari sebelumnya.

“Pasien datang dalam keadaan tidak sadar. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan syok atau kekurangan cairan berat,” pungkas Irfan, Humas sekaligus dokter IGD RSUD Syamsudin. (Eka Lesmana)

Berita Terkait

Risiko Pengelolaan Sampah dan Anggaran DLH Kota Sukabumi
Darurat Kepemimpinan & Inkompetensi “Candu Birokrasi Kota Sukabumi”
Efisiensi, Simpul Sukabumi Soroti Survei Jalan dan Dugaan Penyimpangan
Stok Aman, Polda Metro Jaya Cek Beras di Pasar-Supermarket Tangerang Kota
POPDIKSI Dorong Pemeriksaan BOSP SDN 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi
Ratusan SPPG di Sukabumi Belum Penuhi PBG dan SLF
Konflik Lahan Dengan PT. CSA, Pemkab Lingga Abaikan Suara Masyarakat
Konflik Lahan Masyarakat di Lingga Kepri Perlu Perhatian Pemerintah Pusat

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 19:30 WIB

Risiko Pengelolaan Sampah dan Anggaran DLH Kota Sukabumi

Kamis, 17 September 2026 - 16:28 WIB

Efisiensi, Simpul Sukabumi Soroti Survei Jalan dan Dugaan Penyimpangan

Selasa, 15 September 2026 - 09:10 WIB

Stok Aman, Polda Metro Jaya Cek Beras di Pasar-Supermarket Tangerang Kota

Minggu, 13 September 2026 - 13:36 WIB

POPDIKSI Dorong Pemeriksaan BOSP SDN 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi

Minggu, 13 September 2026 - 13:18 WIB

Ratusan SPPG di Sukabumi Belum Penuhi PBG dan SLF

Berita Terbaru

Photo: Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli

Nasional

Menaker: KBJI 2026 Jadi Acuan Bersama Dunia Kerja

Jumat, 18 Sep 2026 - 19:41 WIB

Teks Photo: Puluhan PC PMII Saat Mengelar UNRAS Di Depan Kantor DLH Kota Sukabumi

Berita Daerah

Risiko Pengelolaan Sampah dan Anggaran DLH Kota Sukabumi

Jumat, 18 Sep 2026 - 19:30 WIB