BERITA JAKARTA – Dukungan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilanjutkan terus disuarakan oleh masyarakat di berbagai daerah seperti Jakarta, Karawang, Makassar, Cianjur, NTB, hingga Sumatera Barat.
Massa menilai program ini sangat bermanfaat untuk pemenuhan gizi anak, ibu hamil dan juga menggerakkan ekonomi akar rumput melalui pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Dayeng mengungkapkan, akan mengalihkan jatah MBG sekolah mahal untuk wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T). Langkah ini, jadi bagian dari strategi BGN untuk perbaiki pelaksanaan program MBG.
Kepala BGN akan melakukan berbagai perombakan dan efisiensi anggaran strategis pada program MBG untuk memastikan anggaran tidak membebani APBN sekaligus menjamin gizi tepat sasaran. Program strategis BGN akan memanfaatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) serta hibah luar negeri.
Selanjutnya, kepala BGN akan melakukan Moratorium dan Evaluasi Dapur dengan melakukan penghentian sementara pembangunan dapur baru dan melakukan audit menyeluruh terhadap ribuan titik dapur yang sudah beroperasi untuk memastikan standar keamanan serta kualitas makanan.
Fokus utama kepala BGN melakukan refocusing sasaran penerima agar bantuan lebih tepat guna, dengan prioritas kepada kelompok 3B (ibu hamil, ibu menyusui dan balita) serta siswa sekolah.
Kepala BGN, Nanik S Deyang akan mengedepankan efisiensi anggaran, perbaikan tata kelola, serta peningkatan kualitas layanan. Oleh karena itulah BGN tidak lagi semata-mata mengejar jumlah penerima manfaat, melainkan memastikan program berjalan tepat sasaran, memiliki dampak gizi yang nyata dan dikelola secara akuntabel.
Kordinator Lembaga Advokasi Kajian Strategis Indonesia (LAKSI), Azmi Hidzaqi menyatakan mendukung kelanjutan program MBG yang menjadi salah satu program prioritas Pemerintah dan mengapresiasi strategi Kepala BGN yang melakukan efisiensi total anggaran MBG dan melakukan perbaikan tata kelola penerima manfaat.
“Salah satu kebijakan baru setelah Nanik menjabat sebagai Kepala BGN adalah penghentian sementara penyaluran MBG bagi siswa selama masa libur sekolah. Kebijakan ini menandai perubahan dari skema sebelumnya yang masih memungkinkan distribusi makanan kepada siswa saat kegiatan belajar mengajar tidak berlangsung,” terangnya, Sabtu (27/6/2026).
Mayoritas, kata Azmi, masyarakat mendukung distribusi makan bergizi disesuaikan menjadi 5 hari per minggu yang diperkirakan menyumbang penghematan hingga Rp40 triliun. Efisiensi anggaran program MBG sebesar Rp 40 triliun dilakukan dengan mengurangi hari operasional distribusi makanan dari 6 hari menjadi 5 hari dalam sepekan.
Selain itu, sambung Azmi, Pemerintah melakukan evaluasi skema insentif Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan penyesuaian penerima manfaat untuk memastikan efisiensi berkelanjutan.
Azmi menambahkan, bahwa Kepala BGN, Nanik S Deyang memiliki tujuan mulia dengan menerapkan strategi efisiensi anggaran MBG. Sebab program MBG ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, mengurangi angka stunting serta memperkuat kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
“Oleh karena itulah maka kami mengajak masyarakat, media, aktivis, untuk ikut mengawal dan mendukung pelaksanaan program MBG agar berjalan sesuai tujuan yang telah ditetapkan Pemerintah. Program MBG harus sukses dan tidak boleh diganggu, karena ini menyangkut masa depan anak-anak Indonesia,” pungkasnya. (Wahyu)






