BERITA JAKARTA – Kejaksaan Agung (Kejagung) dinilai mulai alergi dengan keberadaan para pewarta dengan dirubahnya Press Room atau ruang Wartawan menjadi Klinik Kesehatan Korp Adhyaksa.
Hal tersebut dilontarkan Sekjen Jaringan Nusantara Watch (JNW), Dede Mulyadi yang prihatin dengan nasib para pewarta yang sehari-harinya meliput berita di Kejagung RI tersebut.
“Terus apa kata lainnya kalau bukan alergi dengan keberadaan wartawan di Kejagung sampai press room-nya dirubah jadi Klinik Kesehatan para Jaksa,” sindir Dede, Sabtu (22/11/2025).
Fakta itu, kata Dede berbanding terbalik dengan pernyataan Jaksa Agung ST. Burhanuddin bahwa “Pers adalah sahabat yang harus dijaga” saat menerima jajaran Pengurus Pusat PWI.
“Apanya yang dijaga maksud dari ucapan Jaksa Agung wong press room-nya aja dirubah jadi Klinik Kesehatan para Korps Adhyaksa. Ini fakta, bukan lips service,” sindir Dede.
Dikatakan Dede, keberadaan Wartawan dan Pers sangat penting dan strategis dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
“Mereka berfungsi sebagai Pilar Keempat Demokrasi yang esensial untuk menjaga transparansi, akuntabilitas, partisipasi public dan supremasi hukum,” tegasnya.
Untuk itu, kata Dede, keberadaan para pewarta atau wartawan khususnya di Institusi Kejagung RI adalah dalam rangka untuk memenuhi hak informasi public.
“Juga memastikan Kejagung masih tetap berfungsi sebagai Lembaga Penegak Hukum yang professional, adil dan tidak memihak,” tuturnya.
Untuk itu, tambah Dede, harusnya pihak Kejagung yang betul-betul memang menjalankan fungsinya sesuai harapan masyarakat pasti mendukung keberadaan para pewarta.
“Berikan fasilitas ruangan dan kemudahan akses informasi, terkait kinerja Kejagung. Bukan sebaliknya malah digeser secara halus. Inikan malah jadi pertanyaan ada apa dengan Kejagung,” pungkasnya. (Sofyan)






