BERITA JAKARTA – Gelombang reaksi keras terus mengalir menyusul pernyataan kontroversial yang dilontarkan Sony Sonjaya mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang dinilai telah menyerang pribadi Nanik S Deyang dan banyak pihak dalam pusaran kasus korupsi MBG.
Sebagian besar dari kelompok masyarakat diberbagai platform media sosial meragukan kredibilitas pengakuan tersebut.
Banyak pihak menilai Sony enggan menjadi aktor utama. Padahal, Sony adalah pihak yang bertanggung jawab dalam memegang dan mengatur sistem tata kelola program di BGN.
Keraguan publik terhadap pernyataan Sony semakin menguat setelah kuasa hukumnya, Elza Syarief, secara resmi mundur.
Elza menilai Sony tidak jujur dan tidak terbuka mengenai aliran dana dari orang kepercayaannya, Asep Yusuf Somantri secara rutin.
Sehingga, keadaan itu, berpotensi menggagalkan upaya pengajuan status Justice Collaborator (JC). Padahal, sebelumnya Sony bersikeras mengaku bersih dari aliran penerimaan dana.
Kordinator LAKSI, Azmi Hidzaqi mengatakan, bahwa yang disampaikan Sony yang menuding Nanik S Deyang ikut terlibat dalam kasus korupsi merupakan narasi sesat dan justru terkesan tendensius.
“Kami sangat menyayangkan adanya opini hoak dan pernyataan dari Sony Sanjaya yang sangat reaktif justru akan memperkeruh suasana dengan narasi-narasi yang provokatif,” terang Azmi, Minggu (21/6/2026).
Selain itu, kata Azmi, pernyataan Sony tidak didukung data dan fakta yang valid, sehingga sulit untuk dipercaya.
“Kami menyayangkan adanya sebagian narasi yang beredar sengaja dibangun untuk membentuk persepsi negatif terhadap kepemimpinan yang baru di BGN,” tuturnya.
Karena itu, sambung Azmi, masyarakat diminta untuk tidak langsung menyimpulkan sesuatu hanya dari potongan informasi liar yang viral di media sosial. Karena fakta adalah dasar yang harus kita pegang, bukan sekadar opini atau asumsi.
“Selain itu banyak isu yang sengaja dibangun dengan narasi negatif tanpa disertai data dan fakta yang utuh untuk mengganggu program prioritas Pemerintah dalam membangun gizi anak Indonesia,” pungkasnya. (Wahyu)






