BERITA JAKARTA – Pengamat politik dari Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F. Silaen, menyoroti urgensi moralitas dalam panggung politik nasional.
Dalam sebuah pernyataan terbarunya, Silaen menekankan bahwa saat ini masyarakat dihadapkan pada dikotomi antara upaya membangun bangsa oleh kelompok yang berniat baik, dengan tantangan dari oknum yang dianggap memiliki niat buruk terhadap tatanan demokrasi.
Urgensi Kehadiran Orang Baik
Silaen menegaskan bahwa keberadaan “orang baik” dalam sistem politik bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mutlak agar Negara tidak jatuh ke tangan kelompok yang memiliki agenda tersembunyi.
“Orang baik harus didukung. Mengapa? Karena politik tanpa landasan moralitas hanya akan menjadi alat bagi mereka yang memiliki niat buruk untuk mengeksploitasi Negara demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu,” ujar Silaen, Rabu (17/6/2026).
Melawan Sekumpulan Niat Jahat
Lebih lanjut, Silaen memperingatkan bahaya laten dari perilaku politik kotor dan tamak itu didorong oleh niat jahat.
Ia menggarisbawahi bahwa sekumpulan orang yang berniat buruk tersebut, jika dibiarkan tanpa perlawanan, maka seperti pribahasa susu rusak sebelanga karena nila setitik artinya segelintir orang yang akan merusak sendi-sendi keadilan dan integritas bangsa karena dibiarkan.
“Orang baik itu wajib dan harus memerangi perilaku jahat. Jangan biarkan mereka yang berniat merusak tatanan berkuasa atas nama demokrasi. Mengabaikan keberadaan orang-orang yang berniat buruk adalah bentuk pembiaran terhadap kemunduran demokrasi kita,” tegasnya.
Politik sebagai Pertarungan Integritas
Dalam analisisnya, Silaen melihat bahwa tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana publik dapat membedakan antara retorika manis dan tindakan nyata.
Ia mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam memilah siapa yang sebenarnya memiliki rekam jejak perjuangan untuk rakyat, dan siapa yang hanya memanipulasi situasi.
“Jangan karena saya pernah beririsan dengan warna politik tertentu lantas saya dicap sebagai orang yang tidak netral!,” tuturnya.
“Didunia banyak orang yang mengaku percaya Tuhan, tapi juga bersekutu dengan setan dalam bentuk mistis dan lain- lain. Lalu apa cap yang tepat untuk orang yang seperti itu?,” tanya Silaen.
“Politik sejatinya adalah perjuangan ide dan niat yang baik dari orang yang berani berjuang dijalan kebenaran meskipun jalannya sunyi. Jika yang memegang kendali adalah mereka yang berniat buruk, maka produk kebijakan yang dihasilkan pun akan cenderung destruktif bagi rakyat banyak,” tambahnya.
Pesan untuk Publik
Menutup analisisnya, Silaen mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak bersikap apatis hanya si anu beririsan kesamaan dengan kegelisahan yang sama dalam melihat perjalanan bangsa lalu terlibat mendukung lalu kemudian dicap yang aneh-aneh?.
Menurutnya, partisipasi aktif untuk mendukung orang-orang baik di kancah politik adalah bentuk investasi masa depan bangsa.
Ia menekankan bahwa dalam politik yang ‘nawai’ nya untuk kemaslahatan banyak orang maka wajib saling gotong royong dan saling membahu dalam perjuangan tersebut, diam berarti membiarkan kelompok yang berniat jahat untuk terus bermanuver.
“Ini adalah panggilan moral. Jika kita ingin melihat Indonesia yang lebih bersih dan berkeadilan, kita tidak boleh ragu untuk berdiri bersama orang-orang yang memiliki niat tulus untuk berjuang,” pungkasnya. (Sofyan)






