BERITA JAKARTA – Kabar mengenai perombakan kabinet atau reshuffle kembali mencuat ke publik. Nama mantan Menteri Keuangan (Menkeu) sekaligus ekonom senior, Chatib Basri, dikabarkan bakal menjadi kandidat kuat untuk menggantikan posisi Menkeu, Purbaya Yudhi Sadewa.
Kepada Matafakta.com, Pengamat Politik, Samuel F Silaen mengatakan, bahwa spekulasi ini berhembus di tengah kebutuhan Pemerintah untuk memperkuat stabilitas fiskal dan merespons tantangan ekonomi global yang dinamis.
“Namun yang menjadi titik krucialnya sebenarnya, bukan pada Purbaya atau Chatib Basri, tapi lebih kepada sistem yang jadi fondasi seperti pribahasa lebih besar pasak dari pada tiangnya,” terang Silaen, Jumat (5/6/2026).
Sehingga, kata Silaen, siapapun Menterinya jika pos pengeluaran lebih dan diperbesar terus oleh Pemerintah dalam hal ini, Presiden dan para pembantunya, maka tunggu waktu runtuhnya, karena sudah tidak kuat menopang pengeluaran yang luar biasa besar.
“Ini semua, kembali kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai dirijen Pemerintah yang memandu jalannya kebijakan yang diambilnya, lagi- lagi kata pribahasa bahwa ikan busuk dari kepala, bukan ekornya,” ucap Silaen.
Jadi jika Presiden, sambung Silaen, memberikan contoh yang kontradiktif maka secara otomatis yang lainnya mengekor mencotoh kepala. Karena selama ini pos-pos pengeluaran diperbesar ditambah hutang yang diperbanyak maka akibatnya Negara tinggal tunggu kolap dan seterusnya.
Meskipun, lanjut Silaen, para Pengamat menilai bahwa rekam jejak Chatib Basri yang memiliki kredibilitas tinggi di pasar keuangan Internasional dapat menjadi pertimbangan strategis Pemerintah dalam menjaga kepercayaan investor.
Sementara itu, posisi Purbaya saat ini masih aktif menjalankan tugasnya di Kementerian. Figur Purbaya dan Chatib bagus dan top, hanya saja waktu dan situasi yang membuat mereka gagal atau kurang optimal melakukan tugasnya.
“Karena berbagai pertimbangan seperti adanya intervensi dan tekanan yang jadi kendala meski Pemerintah saat ini, tengah fokus menjaga stabilitas fundamental ekonomi dan pengelolaan fiskal ditengah dinamika global,” ujarnya.
Pengamat menilai, kehadiran sosok seperti Chatib Basri yang memiliki reputasi Internasional kuat serta pengalaman sebagai mantan Menkeu periode 2013–2014 sering kali dianggap sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kepercayaan investor (market confidence).
“Disaat kondisi ekonomi memerlukan navigasi yang tangguh, beda halnya dengan pengamatan saya bahwa persoalan mendasar sebenarnya ada dalam Pemerintahan, bukan diluar, jadi jangan selalu menyalahkan pihak luar,” kritiknya.
Meski begitu, informasi mengenai pergantian posisi Purbaya Yudhi Sadewa masih sebatas rumor yang berkembang dikalangan terbatas. Publik masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak Istana, terkait kebenaran isu rotasi kursi Menteri tersebut.
“Jadi intinya kegalauan Pemerintah itu, bukan dibebankan hanya kepada Menteri Keuangan semata saja, tapi harus menyeluruh kepada semua pembantu Presiden Prabowo Subianto,” tutup Silaen. (Sofyan)






