BERITA JAKARTA – Indonesia Negara net importir? Apakah Fenomena “rajin impor” yang dialami Indonesia sebenarnya, bukan karena tidak bisa memproduksi barang sendiri atau ada fee yang menggiurkan para pihak-pihak yang doyan impor.
Hal itu dugaan sementara yang dilontarkan Pengamat Politik, Samuel. F Silaen, menyoroti fenomena “rajin impor” Indonesia ke Negara luar.
“Menciptakan ekosistem memang butuh waktu dan keteguhan hati agar tidak tergoda kedalaman instanisme, karena dinamika ekonomi yang cukup kompleks,” terang Silaen kepada Matafakta.com, Senin (2/2/2026).
Impor, kata Silaen, sering kali menjadi jalan pintas untuk menjaga stabilitas harga dan memenuhi kebutuhan yang tidak terkejar oleh produksi lokal.
Beberapa faktor utama, kata Silaen, mengapa Indonesia masih sangat bergantung pada barang impor secara sistemik dan masif tanpa ada penyiapan solusi yang pasti dan terukur untuk jangka panjang.
Kendala klasik yang muncul, bukan hal baru, apalagi hight tech, bukan. Kebutuhan yang diimpor itu meliputi:
- Kebutuhan Bahan Baku Industri
Fakta uniknya, mayoritas impor Indonesia bukanlah barang konsumsi (seperti HP atau baju jadi), melainkan bahan baku dan penolong.
“Banyak industri di Indonesia (seperti otomotif, elektronik dan tekstil) yang melakukan perakitan di dalam negeri, namun komponen intinya masih harus didatangkan dari luar negeri, karena industri hulunya belum kuat,” ujarnya.
- Kesenjangan Produksi Pangan
Meskipun dikenal sebagai Negara Agraris, Indonesia sering mengimpor komoditas pangan seperti beras, gula, daging sapi dan kedelai.
Penyebab gagalnya panen yang selalu menjadi kambing hitam, tapi tidak pernah diselesaikan dengan baik dan fixed.
Kendala- kendala itu antara lain:
- Laju pertumbuhan penduduk yang lebih cepat dari pada peningkatan produktivitas lahan.
- Faktor cuaca (seperti El Nino) yang sering mengganggu jadwal panen.
- Biaya logistik domestik yang terkadang lebih mahal dari pada biaya impor dari Negara tetangga.
III. Impor Barang Modal (Mesin & Teknologi)
Secara teori diatas kertas sangat bagus dan menarik untuk membangun infrastruktur dan pabrik, kita butuh mesin-mesin berat dan teknologi tinggi.
“Tapi itu, cuma sebatas wacana dan jargon tiada hasil, karena cuma lipstik sebagai pewarna bibir saja,” ucap Silaen.
Belum lagi bicara soal Sektor Energi (Minyak dan Gas)
Dulu kita adalah Anggota OPEC (Ekspor Minyak), tapi sekarang kita adalah net importer minyak. Tapi semakin hari semakin tergantung pada impor.
“Konsumsi BBM masyarakat terus meningkat, sementara kapasitas kilang minyak di dalam negeri belum mencukupi untuk mengolah minyak mentah menjadi bahan bakar siap pakai dalam jumlah besar,” tuturnya.
Secara jangka pendek betul Efisiensi Harga dan Kualitas
Harus diakui, tambah Silaen, dalam pasar global, beberapa barang impor masuk dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan jika kita memproduksi sendiri dengan skala kecil.
“Sudah bukan rahasia umum bahwa yang terjadi tidak demikian karena mahalnya ‘biaya upeti’ yang dikeluarkan oleh para importir yang berbiaya tinggi yang terselubung,” pungkasnya. (Sofyan)






