BERITA JAKARTA – “Ada apa dengan menteri-menteri pembantu Presiden Prabowo Subianto. Sedang memancing amarah rakyatkah ini?”
Ucapan itu, dilontarkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Masyarakat dan Pemuda Nusantara Merah Putih (AMPUH), Heru Purwoko.
“Belum hilang ingatan, Menteri Keuangan Sri Mulyani melukai perasaan para guru dengan menyebut guru sebagai beban Negara,” kata Heru, Kamis (4/9/2025).
Nah sekarang, sambung Heru, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, menambah luka lagi guru-guru se-Indonesia “kalau mau cari uang, jangan jadi guru, jadi pedaganglah”.
“Presiden Prabowo Subianto sekembalinya dari China alangkah baiknya untuk mencopot Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Agama Nazarudin,” tegas Heru.
“Copot menteri-menteri yang membakar amarah rakyat. Guru adalah tonggak bangsa yang bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa melalui proses belajar mengajar,” sambungnya.
Guru, lanjut Heru, memegang peran sentral dan fundamental dalam membangun bangsa, menciptakan generasi penerus yang unggul, serta membentuk karakter dan peradaban bangsa melalui pendidikan.
“Peran mereka sangat strategis karena merekalah yang mencerdaskan kehidupan bangsa dan menanamkan nilai-nilai moral, sehingga kemajuan suatu bangsa bergantung pada keberhasilan pendidikan,” tuturnya.
Oleh karena itu, untuk mewujudkan peran krusial, Pemerintah dan masyarakat perlu memberikan perhatian besar dan memastikan kesejahteraan guru terpenuhi, seperti yang ditegaskan Presiden Prabowo.
“Bukan sebaliknya malah guru dianggap sebagai beban Negara atau kalau mau cari uang, jangan jadi guru, tapi jadi pedagang. Ini menyakitkan. Pecat aja pejabat begitu,” pungkas Heru.
Sebelumnya, pernyataan Menag, Nasaruddin Umar, dalam potongan video yang viral, Nasaruddin mengucapkan “kalau mau cari uang, jangan jadi guru, jadi pedaganglah”.
Menanggapi pernyataannya itu, Nasaruddin akhinrya menyampaikan klarifikasi dan meminta maaf. Nasaruddin mengatakan tak bermaksud menyakiti dan merendahkan guru.
“Saya menyadari bahwa potongan pernyataan saya tentang guru menimbulkan tafsir yang kurang tepat dan melukai perasaan sebagian guru,” ucapnya.
Untuk itu, Nasaruddin memohon maaf yang sebesar-besarnya. Tidak ada niat sedikit pun baginya untuk merendahkan profesi guru.
“Justru sebaliknya, saya ingin menegaskan bahwa guru adalah profesi yang sangat mulia, karena dengan ketulusan hati merekalah generasi bangsa ditempa,” imbuh Nasaruddin.
Dia mengatakan dirinya juga seorang guru. Atas dasar itu, katanya, Nasaruddin memahami guru juga butuh kesejahteraan yang layak.
“Puluhan tahun hidup saya, saya abdikan diruang kelas, mendidik mahasiswa, menulis dan membimbing. Dibalik kemuliaan profesi ini, guru tetap manusia yang membutuhkan kesejahteraan yang layak,” pungkasnya. (Sofyan)






