BERITA SUMUT – Ikon alam dan kebanggaan Sumatera Utara (Sumut) yang selama ini dikenal akan kejernihan dan keindahannya, kini tengah menghadapi ancaman serius.
Dalam dua pekan terakhir, masyarakat dibeberapa wilayah di Kabupaten Samosir, melaporkan perubahan drastis pada warna air Danau yang tampak keruh dan kuning kecoklatan.
Fenomena ini tidak hanya merusak estetika dan nilai wisata, tetapi juga memunculkan kekhawatiran akan potensi bahaya kesehatan masyarakat serta kerusakan ekosistem air yang sangat vital bagi kehidupan lokal.
Perubahan ini terjadi disejumlah lokasi di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara sejak 15 Juli 2025 yang lalu hingga saat ini.
Perubahan warna air Danau Toba inipun membuat mati puluhan ton ikan nila di keramba jaring apung milik warga.
Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir, Sumut, Edison Pasaribu, perubahan ini terjadi disebabkan oleh sejumlah faktor.
“Faktor alam di musim kemarau panjang yang disertai angin kencang yang membuat ombak di Danau Toba menjadi besar,” terang Edison dalam videonya yang diterima Matafakta.com, Kamis (24/7/2025) kemarin.
“Hingga arus air di kedalaman Danau Toba membuat endapan lumpur dan naik ke permukaan,” sambungnya.
Sementara, lanjut Edison, faktor lain seperti endapan limbah dari penggunaan pakan ikan nila di keramba jaring apung milik warga dan penggunaan pupuk pertanian di sawah serta limbah domestik masyarakat.
“Sehingga menyebabkan meningkatnya kadar amoniak hingga oksigen dalam air Danau Toba mengalami penurunan hingga mencapai 4 hingga 3,9 miligram per liter,” ujarnya.
Meski begitu, tambah Edison, air Danau Toba yang mengalami perubahan warna akibat endapan lumpur yang naik ke permukaan, masih aman untuk digunakan oleh warga.
“Berdasarkan hasil sampel laboratorium yang dilakukan DLH Samosir, air Danau Toba masih aman untuk digunakan warga. (M. Siregar)






