BERITA SUMUT – Keresahan warga Nagori Boluk, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut), sudah diambang batas.
Pasalnya, dugaan peredaran narkoba jenis sabu, bukan lagi sekedar rumor bahkan korban paling nyata mulai menyasar anak di bawah umur.
Berdasarkan informasi lapangan, tiga pria berinisial NOK, MIND dan BU diduga jadi pengendali jaringan narkoba jenis sabu di wilayah tersebut.
Kepada Matafakta.com, sumber mengungkapkan, transaksi barang haram disebut berlangsung dirumah kosong di Kampung Tempel dan dibelakang rumah inisial YSF yang disebut-sebut sebagai bos besar dari Nok, Mind dan BU.
“Banyak pembeli sabu keluar masuk. Bahkan anak di bawah umur juga terlihat membawa klip plastik yang diduga narkoba,” kata sumber yang minta namanya dirahasiakan, Senin (6/7/2026).
“Kami takut generasi muda di Kampung ini hancur. Kalau aparat terus lambat, maka Bosar Maligas resmi menyumbang satu titik hitam baru untuk peta narkoba di Simalungun,” sambungnya.
Lebih lanjut, kata narasumber yang berbeda seorang ibu rumah tangga dilokasi yang sama mengaku, sangat khawatir dampaknya tidak hanya anak sekolah, tapi merembet ke ketahanan rumah tangga warga.
“Kami para kaum ibu- ibu sangat prihatin, ini bisa membuat kehancuran rumah tangga. Jika dibiarkan maka generasi yang harusnya dibangku sekolah kini dijejali racun yang menghancurkan masa depan mereka,” tuturnya.
“Kami resah Lingkungan yang dulu tenang kini berubah jadi ruang penuh ketakutan. Setiap hari rasanya was was,” tambah sumber mengeluhkan.
Sementara itu, Kasat Narkoba Polres Simalungun, AKP Charles Hartono Nababan hingga berita ini diturunkan belum membaca pesan WhatsApp meski statusnya sudah centang dua.
Sumber berujar, pantauan dilapangan penjualan sabu “laris manis” tanpa gangguan seperti jualan kacang goreng.
“Kalau aparat terus diam, Bosar Maligas akan tercatat sebagai zona merah baru narkoba di Simalungun. Korbannya anak-anak yang masa depannya dicuri sebelum sempat bermimpi,” pungkas sumber. (Tim)






