BERITA SUKABUMI – Musyawarah Daerah (Musda) Ke-XVI DPD KNPI Kota Sukabumi diwarnai aksi unjuk rasa oleh kubu Tantan dengan mendatangi Kantor Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Sukabumi.
Diketahui, pada Musyawarah Daerah (Musda) ini terjadi dinamika 2 kubu ditubuh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Sukabumi.
Menurut Ketua Umum Laskar Fisabilillah Indonesia, Abi Kholil Asubki mengatakan, pelaksanaan Musda KNPI Kota Sukabumi yang diwarnai aksi protes mencerminkan krisis legitimasi dan kegagalan fungsi Organisasi sebagai wadah pemersatu pemuda.
“Dinamika ini menunjukkan bahwa KNPI Kota Sukabumi masih terjebak dalam dualisme kepengurusan yang berkepanjangan yang pada akhirnya merugikan peran strategis pemuda di daerah tersebut,” terang Abi Kholil, Senin (20/4/2026).

Menurut Abi, dualisme yang terjadi lebih mengedepankan perebutan eksistensi administratif dan akses kekuasaan dari pada visi pembangunan pemuda. Kondisi ini membuat pemuda Sukabumi “kehilangan arah”, karena energi Organisasi habis untuk saling klaim keabsahan di jalur hukum maupun opini publik.
“Kemudian muncul kekhawatiran besar mengenai transparansi dan legalitas penyaluran dana hibah dari Pemerintah Daerah ditengah dualism,” tutur Abi.
Penyaluran anggaran, lanjut Abi, kepada salah satu kubu saat status kepengurusan belum jelas secara hukum (de jure) berpotensi memicu masalah hukum dimasa depan dan mencederai rasa keadilan antar Organisasi Kepemudaan (OKP).
Abi berujar, Pemerintah Kota Sukabumi, melalui Disporapar Kota Sukabumi, harus netral dan tidak menerapkan pola “belah bambu” yang justru memperuncing konflik antar kubu Pemuda.
“Kehadiran Pemerintah seharusnya menjadi penengah yang mampu mendorong islah, bukan membiarkan dua kubu menggelar agenda masing-masing secara terpisah,” sindirnya.
Abi menilai, pelaksanaan Musda yang terus diwarnai aksi kubu lawan menunjukkan bahwa reformasi internal ditubuh KNPI Kota Sukabumi adalah kebutuhan mendesak.
“Tanpa adanya kesadaran untuk bersatu, KNPI hanya akan menjadi Organisasi “stempel” yang gagal mencetak laboratorium kepemimpinan yang sehat bagi generasi muda di Sukabumi,” pungkasnya. (Eka Lesmana)






