BERITA JAKARTA – Sesungguhnya orang-orang yang lahir pada masanya itu punya tantangan tersendiri yang jauh lebih kompleks dan pelik.
Hal itu dikatakan Tokoh eksponen Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) sekaligus Pengamat Politik, Samuel F Silaen.
“Itulah yang menjadi pergumulan sekaligus problematik yang muncul pada kekinian yang tidak bisa dihindarkan dari perubahan yang terjadi,” terangnya, Selasa (28/10/2025).
Tantangan Pemuda terkait dengan peringatan hari Sumpah Pemuda saat ini, bukan ringan, tapi semakin kompetitif dan sengit.
“97 tahun Sumpah Pemuda seperti fatamorgana yang kelihatan woww! Namun keropos dan tidak bisa dijangkau, karena semua hanya diawang-awang, tidak membumi,” seru Silaen.
Setiap pergantian pemimpin Pemerintahan maka slalu beranjak dari nol dan itu sangat sering kita dengar dari mereka-mereka yang menyatakan bahwa Pemerintahan yang ada masih baru atau hitungan tahun. Lupa bahwa negeri ini sudah merdeka selama 80 tahun.
“Bila setiap pergantian pemimpin slalu berganti pijakan dan tidak ada kesinambungan yang hakiki, ini menandakan Negara sedang gamang, karena semuanya tergantung pada kebijakan Presiden terpilih,” tuturnya.
“Dan semua kebijakan pemerintah slalu money oriented yang melahirkan bias-bias kepentingan sesaat dan kosong,” sambungnya.
Kesengsaraan dan kesenjangan yang ada tak termanage dengan baik atau simultan. Ini problem besar bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam jangka panjang. Karena sampai kapan?
“Sebab tantangan Pemuda dimasa yang akan datang akan semakin berat, karena persaingan secara globalis dan itu tidak akan terhindarkan,” imbuhnya.
Ini jadi catatan penting di hari Sumpah Pemuda ke-97 tahun yang sudah mendekati 1 abad. Kegagalan suatu bangsa lebih disebabkan oleh faktor kepemimpinan dan manajemen kepemimpinan.
“Sebab kerusakan itu bermula dari kepala maka bila kepalanya rusak maka sampai kebawah rusaknya sangat dahsyat dan meruntuhkan bangunan serta fondasinya,” ucap Silaen.
Jadi pengambilan keputusan atas sebuah kebijakan Pemerintah maka harus lebih berhati-hati dan menjaga kondusifitas dan kebersamaan sesama elemen Bangsa.
Sebab, tambah Silaen, nenek moyang suku-suku bangsa di Nusantara ini sama-sama berjuang untuk mengusir dan memerdekakan bangsa ini dari penjajah.
“Maka Pemerintah harus berdiri di atas semua golongan dan tidak boleh ada diskriminasi yang akhirnya melahirkan ketersinggungan dan melemahnya kohesifitas sesama elemen masyarakat dan bangsa yang melihat dan merasakan perlakuan penguasa atas sumber daya alam dan keuangan Negara yang diskriminatif,” pungkasnya. (Sofyan)






