BERITA BEKASI – “Ekonomi semakin sulit, pendapatan dengan kebutuhan hidup jauh dari cukup, belum lagi untuk biaya pendidikan anak”.
Hal itu diungkapkan, Wakil Ketua LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) Distrik Kota Bekasi, Delvin Chaniago.
“Menjadi wajar, jika masyarakat sekarang menjadi kritis, karena dirasa ada yang jomplang,” terang Delvin kepada Matafakta.com, Senin (8/9/2025).
Sebab, kata Delvin, ditengah masyarakat mengalami massa sulit tapi sebaliknya para pejabatnya, baik Eksekutif maupun Legislatif mendapatkan tunjangan atau kemewahan.
“Untuk DPRD, total anggaran tunjangan rumah DPRD Kota Bekasi mencapai sekitar Rp2,316 miliar per bulan atau Rp27,8 miliar per tahun itu hanya untuk satu jenis tunjangan,” tuturnya.
Sementara, kata Delvin, untuk Eksekutif tunjangan Rumah Dinas (Rumdin) Walikota Bekasi tembus kurang lebih Rp500 juta perbulan.
“Sementara, masuk skala prioritas rencana pembangunan rumah dinas Wakil Walikota Bekasi sebesar Rp4,61 miliar di APBD 2025,” ujarnya.
Menurut Delvin, dengan fakta itu, baik Eksekutif maupun Legislatif, tidak memiliki rasa empati terhadap kesusahan masyarakat saat ini.
“Gubernur Jawa Barat, KDM aja menempati rumah pribadi dia nolak menempati rumah dinas dan beliau juga tidak menerima kompensasi rumah dinas,” sindir Delvin.
Alangkah baiknya, sambung Delvin, anggaran tersebut dialihkan untuk pendidikan, kesehatan, dan pelayanan dasar yang benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat.
“Ya, kalau pihak Eksekutif dan Legislatif selalu bicara memikirkan nasib masyarakat seharusnya malu. Masyarakat saat ini hidup gali lubang tutup lubang,” imbuhnya.
Tapi apa, kata Delvin, sebaliknya para pemimpin (Eksekutif) dan Wakil Rakyatnya (Legislatif) sangat berkecukupan dengan mendapatkan berbagai tunjangan dan kemewahan.
“Jangan ketika bicara kebijakan Eksekutif dan Legislatif saling benturan seakan demi mikiri nasib masyarakat, tapi sebaliknya giliran tunjangan dan kemewahan sekata,” ucapnya.
Untuk itu, tambah Delvin, pihaknya berharap kebijakan tunjangan baik Eksekutif maupun Legislatif musti dievaluasi kembali.
“Agar memiliki rasa empati terhadap kesusahan masyarakat saat ini. Ngak elok rasanya hidup penuh kemewahan diatas penderitaan masyarakat,” pungkasnya. (Ronny)






