BERITA BEKASI – Umum masyarakat konsumen yang sudah merasa terlayani kebutuhannya jarang melontarkan ‘cemohan’ atau ‘sindiran’ pedas kecuali hanya berkeluh biasa sewajarnya, karena tingkat ekonomi yang berbeda-beda.
Namun berbeda ketika adanya rencana kenaikan tarif pada Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Patriot, Kota Bekasi yang akan dimulai pada tanggal 1 Maret 2025 mendatang, bukan keluhan, tapi lebih kepada ‘cemohan’ pedas.
Misalnya komen dari Akun Alam Rhamdani dihalaman postingan Instagram ‘Info Bekasi’ menulis “Wkwkwkwk kebanyakan buteknya dari pada beningnya eh minta naik? Kocak,” responya menohok, Jumat (28/2/2025).
Sementara, Akun Wilis_Nr menulis “Pelayanan naik !!! Air sering mati,” ucapnya. “Segala naik perbaiki dulu tuh kualitas. Begitu juga dengan Akun Yuliasara yang tak kalah pedas “Lagi ngelawakkkkkk yaa? CC,” ujarnya.
Tak kalah pedas juga dilontarkan Akun Malksmalika “Pelayanan air sampah gangguan terus minta harga naik,” tulisnya yang disambut Akun Isti _Lengop “Woii…naik naik…..Ngalir aja ngak dari kemarin ya kan bu,” yang dijawab “Kocak ni lama-lama,” sambut Aku Riennyaprilian.
Itulah beberapa respon menohok yang dilayangkan para masyarakat konsumen Perumda Tirta Patriot, Kota Bekasi yang tengah menyiasati adanya penyesuaian tarif PDAM Jawa Barat, adanya rekomendasi BPK dan BPKP.
Menanggapi hal tersebut, Sekjen Jaringan Nusantara Watch (JNW), Aji Prasetyo mengatakan, fakta keluhan masyarakat konsumen diatas adalah bukti bahwa tidak adanya perubahan pelayanan ditubuh Perumda Tirta Patriot, Kota Bekasi.
“Sebab, dari dulu keluhannya masih diprekwensi yang sama air butek, mati dan sebagainya yang tidak mengalami perubahan. Padahal itu merupakan pelayanan dasar belum kepada peningkatan pelayanan,” ujarnya.
Pada dasarnya, lanjut Aji, masyarakat konsumen air bersih tidak akan keberatan jika ada rencana kenaikan tarif kalau pelayanan dasarnya tidak sering bermasalah, karena kenaik itu tentu untuk mempertahankan atau meningkatkan pelayanan.
“Memang ukuran puas masyarakat banyak itu susah, tapi kalau persoalan pelayanan dasarnya tentu gampang diukur. Seperti keluhan air butek sama air sering mati itukan umum lah diusaha air, tapi kalau terlalu sering artinya ada yang salah dong,” pungkasnya. (Dhendi)






