BERITA BEKASI – Sebelumnya, tiga Kepala Instalasi strategis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chasbullah Abdul Majid Kota Bekasi, kompak memilih mundur dari jabatannya.
Ketiga Kepala Instalasi senior itu yakni, Kepala Instalasi IGD, Kepala Instalasi Laboratorium dan Kepala Instalasi Rehabilitasi Medik.
Mundurnya ketiga Kepala Instalasi itu dipicu gaya dari kepemimpinan Direktur RSUD yang baru, Dr. Ellya Niken Prastiwi, MKM, MARS yang dinilai otoriter.
Terbaru, adalah pemotongan tunjangan pegawai khususnya bagi ASN pemotongan rasionalisasi sebesar 5 persen. Sementara untuk tenaga medis rasionalisasi kisaran 10-15 persen.
“Semua karyawan ngeluh dipotong jasa medisnya. Perawat Rp500 ribu yang BLUD, Prakarya BLUD Rp200 ribu dan PNS Rp2 juta,” kata sumber kepada Matafakta.com, Kamis (1/1/2026).
Semua kita, lanjut sumber yang minta namanya dirahasiakan dipaksa untuk menandatangani, termasuk membuat status tidak menerima gratifikasi.
“Pas Dirut RSUD CAM yang baru aja. Padahal, setiap bulan kan kita sudah kena PPN. Parahnya lagi uang jaga malam dari Rp65 ribu jadi Rp25 ribu,” jelasnya.
“Dulu masih mending dapat tambahan akhir tahun sekarang boro-boro malah dipotong 5 persen. Jasa medis dipotong, transport dipotong, uang malam juga dipotong,” sambung sumber.
Selain itu, kata sumber, suasana kerja belakangan ini dipenuhi dengan komunikasi yang tidak baik serta pola kepemimpinan yang dinilai kaku dan tidak dialogis.
“Komunikasi antara atasan dan bawahan tidak berjalan dengan baik bahkan cenderung otoriter. Beda jauh dengan kepemimpinan RSUD sebelumnya,” sindir sumber.
Ditambahkan sumber, ketidakharmonisan tersebut tentu akan mempengaruhi kualitas kerja dalam memberikan pelayanan Rumah Sakit (RS) kepada masyarakat.
“Kondisi yang tidak baik diinternal RSUD CAM Kota Bekasi tentu dapat mempengaruhi kualitas layanan kesehatan bagi warga Kota Bekasi,” pungkasnya. (Roni Mahendra)






