BERITA BEKASI – Subhi (26) tak menyangka Mobilio milik Kiai-nya pemimpin sekaligus pemilik salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) di Purwakarta baru telat 2 bulan sudah dibetot Mata Elang alias Matel.
“Padahal, saya sudah memohon dan sudah mejelaskan, tapi saya tidak diberikan kesempatan kecuali menyediakan uang sebesar Rp27 juta,” kata Subhi lirih kepada Matafakta.com, Minggu (14/12/2025).
Mobil itu, kata Subhi tiba-tiba dipepet diperempatan lampu merah pintu air oleh satu mobil pribadi dan satu motor setelah dari Islamic Centre KH. Noer Ali, Kota Bekasi, Jawa Barat.
“Saya diberi amanah atau tugas sama Pak Kiai dari Ponpes di Purwakarta untuk mengantar 2 Ustadz ke Islamic Centre KH. Noer Ali Kota Bekasi. Pulangnya saya tiba-tiba dipepet,” ujarnya.
Subhi mengaku, sudah mencoba berusaha bernegosiasi dengan membayar tunggakan selama 2 bulan sekitar Rp7 juta dan biaya tarik istilah mereka sebesar Rp5 juta, namun tidak direspon.
“Bahkan ada anggota polisi yang baik dari Polres Metro Kota Bekasi, Media dan LSM setempat yang ingin coba membantu berkomunikasi dengan kelompok Matel, tapi tetap tidak direspon mereka,” tuturnya.
Angka terakhir, lanjut Subhi, ketika mereka kembali menghubungi meminta biaya tarik atau BT sebesar Rp18 juta diluar dari cicilan keterlambatan mobil selama 2 bulan sebesar Rp7 juta.
“Ya Allah. Padahal saya sudah bilang bahwa Pak Kiai, sudah tidak ada uang lagi. Mobil operasional itu baru sekarang telat, karena kondisi Ponpes di Purwakarta lagi kondisi susah,” ulas Subhi.
Subhi pun mengaku, sempat terkatung-katung selama 2 hari di Kota Bekasi, karena berusaha bagaimana mobil operasional Ponpes milik Kiai tersebut bisa diambil kembali.
“Mau gimana oknum polisi baik dari Polres Metro Bekasi Kota sama Media dan LSM setempat aja yang niat cuma membantu diabaikan apalagi saya,” ucapnya.
Karena, kata Subhi, hal itu sudah terucap dari kelompok Mata Elang alias Matel yang menarik mobil menyebut jangan berkomunikasi kemana-mana percuma tidak akan pengaruh.
“Udah percuma kamu jangan menghubungi kemana-mana tidak akan pengaruh kecuali permintaan dipenuhi,” kata Subhi menirukan uacapan salah seorang kelompok Matel tersebut.
Masih kata Subhi, mobil milik Kiai-nya tersebut dibetot kelompok Matel pada Kamis 11 Desember 2025 sekitar pukul 13.28 WIB diperempatan lampu merah pintu air.
“Kejadiannya itu Kamis dihari yang sama dengan kejadian di depan Taman Makam Pahlawan atau TMP, Kalibata, Jakarta Selatan yang belakangan ramai,” imbuhnya.
Mobil itu, tambah Subhi, sempat dibawa-bawa kelompok Matel ke TMP Kalibata waktu kejadian disana memanas. Ia berharap mobil milik Kiai-nya bisa dikembalikan.
“Kalau sampai Rp27-26 juta ngak sanggup karena Ponpes juga lagi keadaan susah. Lagian saya bingung baru telat 2 bulan mobil diambil dan minta biaya tarik Rp27 juta,” pungkasnya. (Roni Mahendra)






