BERITA BEKASI – Tiga Kepala Instalasi strategis Rumah Sakit Umum Daerh (RSUD) Chasbullah Abdul Majid Kota Bekasi, dikabarkan kompak memilih mundur dari jabatannya.
Ketiga Kepala Instalasi senior yang kompak mundur itu yakni, Kepala Instalasi IGD, Kepala Instalasi Laboratorium dan Kepala Instalasi Rehabilitasi Medik.
Informasi yang didapat bahwa persoalan internal tersebut dipicu gaya kepemimpinan Direktur RSUD yang baru, Dr. Ellya Niken Prastiwi, MKM, MARS yang dinilai otoriter.
“Otoriter. Direktur berpihak sebelah sama bagian tertentu dan setiap masukan tidak pernah diterima,” terang sumber yang minta namanya dirahasiakan Matafakta.com, Sabtu (22/11/2025).
Selain itu, kata sumber, suasana kerja belakangan ini dipenuhi dengan komunikasi yang tidak baik serta pola kepemimpinan yang dinilai kaku dan tidak dialogis.
“Komunikasi antara atasan dan bawahan tidak berjalan dengan baik bahkan cenderung otoriter. Beda jauh dengan kepemimpinan RSUD sebelumnya,” sindir sumber.
Sementara, sumber lain mengatakan, bahwa ada wancana pemotongan tunjangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan wancana penghapusan uang dinas malam.
“Kabar yang saya terima begitu bang. Intinya suasana kerja di RSUD Kota Bekasi belakangan ini sudah tidak terjalin baik. Begitu juga dengan suasana kerja, sudah tidak nyaman,” tandasnya.
Menanggapi hal tersebut, Sekjen Jaringan Nusantara Watch (JNW) Dede Mulyadi kembali angkat bicara bahwa fakta ini tidak sesuai dengan akun Tiktok viral-viral ala KDM di Kota Bekasi.
“Faktanya tiga Kepala Instalasi senior RSUD Kota Bekasi kompak mengundurkan diri dari jabatannya. Artinya, ada masalah serius ditubuh RSUD Kota Bekasi,” tegas Dede.
Dikatakan Dede, ketidakharmonisan tersebut tentu akan mempengaruhi kualitas kerja dalam memberikan pelayanan Rumah Sakit kepada masyarakat.
“Kondisi yang tidak baik diinternal RSUD Kota Bekasi tentu dapat mempengaruhi kualitas layanan kesehatan bagi warga Kota Bekasi,” ulasnya.
Ketiga unit itu, tambah Dede, merupakan jantung pelayanan di RSUD Chasbullah Abdul Majid Kota Bekasi yang sudah senior. Jika mundur itu bukan keputusan yang ringan.
“Kesehatan warga Kota Bekasi terlalu penting untuk dikorbankan oleh konflik internal dan ego manajerial. Ya, begini kalau Kepala Daerah salah menempatkan orang,” pungkasnya. (Ronny)






