BERITA BEKASI – Fenomena rotasi dan mutasi yang melibatkan kerabat dekat, tim sukses (timses), keluarga serta isu uang pelicin di jajaran Pemerintah Daerah, bukan hal baru.
Hal tersebut dikatakan Sekjen Jaringan Nusantara Watch (JNW) Dede Mulyadi yang ikut menyoroti berbagai tanggapan terkait mutasi dilingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi.
“Praktik ini secara umum dikenal dengan istilah nepotisme dan sering kali memicu kekhawatiran terkait tata kelola Pemerintahan yang baik atau good governance,” kata Dede, Sabtu (1/11/2025).
Penempatan berdasarkan hubungan kekerabatan atau kedekatan politik, alih-alih kompetensi dan kualifikasi profesional, merupakan bentuk nyata dari nepotisme dan konflik kepentingan.
“Hal ini bertentangan dengan prinsip meritokrasi dalam manajemen ASN yang mengutamakan kualifikasi, kinerja dan kompetensi secara adil dan wajar,” tuturnya.
Praktik semacam ini, lanjut Dede, dapat berdampak negatif pada kualitas pelayanan publik, efisiensi administrasi dan profesionalisme birokrasi.
“Tapi jangan juga buat framing gegara sindiran Menkeu Purbaya soal juali beli jabata mantan Walikota Bekasi, Rahmat Effendi alias Bang Pepen disalahkan dong ngak baik,” ucapnya.
Emangnya, sambung Dede, kepemimpinan sekarang bener-bener bersih dari prilaku nepotisme baik rotasi ataupun mutasi dilingkungan Pemerintah Kota Bekasi.
“Cius ni nanya? Lah itu adik kandung dan adik iparnya Walikota Bekasi yang sekarang pasangan suami istri empuk posisi di Dinkes dan Bapenda Kota Bekasi,” sindirnya.
Apapun alasannya, lanjut Dede, sulit untuk bisa diterima bahwa itu murni lewat kompetensi atau kualifikasi professional dengan kata lain open bidding.
“Misalnya maaf sempat ramai bahwa Kepala Dinkes Kota Bekasi lulusan kedokteran hewan. Sementara yang mau diurus kedokteran manusia. Kan ngak nyambung,” tuturnya.
Masih kata Dede, diera digital saat ini dengan berbagai sarana di media social seperti Tiktok, Instagram dan sebagainya pejabat sekarang cukup punya tim medsos sendiri.
“Tim medsos yang rajin untuk viral-viral aktifitas, termasuk mau makan aja diviralin biar selalu dekat dengan masyarakat ngak peduli kerjanya baik atau buruk. Penting sering viral,” pungkasnya. (Ronny)






