BERITA BEKASI – Janda muda pedagang kopi Miea (31) korban rayuan laki-laki yang sempat diviralkan kini dilarang berjualan di Kawasan sekitar Pemda Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Ibu muda dari dua orang anak ini didatangi beberapa orang yang mengaku dari Karang Taruna setempat yang mengusirnya saat Miea kembali berjualan mencari nafkah seperti biasanya.
Miea mengaku konten “pelakor” yang diviralkan bukalah kesalahannya, tapi istri dari laki-laki yang telah menipunya dengan menunjukan bukti surat perjanjian dan mengaku tinggal menunggu proses cerai.
“Salah saya apa? Harusnya perempuan yang miralkan itu sadar diri bahwa suaminya sendiri yang telah menipu saya. Kenapa saya yang diserang harusnya suaminya dong,” kata Miea.
Sekarang, kata Miea, persoalan ini dibesar-besarkan oleh sesama pedagang sekitar atau kesempatan sebagai dalih atau alasan untuk melarangnya berjualan seperti biasanya.
“Harusnya sesama pedagang saling bela, bukan begini. Padahal, niat baik saya sebagai seorang janda mau bersuami yang bener malah ketemu laki-laki buaya. Apa salah saya,” tandasnya.
Sementara itu, Roni Mahendra Anggota dari Tombak Keadilan Rakyat (TKR) menyampaikan, rasa empatinya terhadap Miea dan berharap Karang Taruna setempat jernih melihat persoalan.
“Miea itu bukan pelakor, tapi dia korban dari leki-laki hidung belang berinisial OS yang mengaku sudah talak tiga dan tinggal menunggu proses cerai,” kata Roni, Sabtu (4/10/2025).
Setelah Miea, lanjut Roni mengetahui OS laki-laki hidung belang itu langsung ditinggalkanya, bukan dipertahankannya. Itulah fakta bahwa Miea sendiri merasa ditipu OS.
“Anehnya, istri dari OS malah sengaja mencari sensasi dengan memiralkan Miea sebagai pelakor. Harusnya kan suaminya yang dikasih pelajaran, karena telah menipu wanita lain,” imbuhnya.
Masih kata Roni, laki-laki hidung belang itu OS menunjukan semacam surat perjanjian dengan istrinya yang sekarang malah diklaim palsu sama istrinya sendiri membela suaminya.
“Lucu, soal asli atau palsu surat itu bukan urusan Miea itu urusan suaminya sendiri, kenapa disalahkan ke Miea. Apa kafasitas Miea membuktikan surat itu palsu atau asli mangnya polisi,” sindir Roni.
Untuk itu, tambah Roni sekali lagi berharap baik para Karang Taruna setempat maupun dengan sesama pedagang jernih melihat duduk persoalan kasian Miea sebagai tulang punggung keluarga dan anaknya.
“Saya pun khwatir persoalan ini sudah ditumpangi pihak-pihak yang mengambil kesempatan yang tidak ingin Miea berjualan disitu. Atau mending semua dibersihkan sekalian timbang riweh,” pungkas Roni. (Hasrul)






