BERITA BEKASI – Carut marutnya pengelolaan olahraga di Kota Bekasi seiring merosotnya prestasi atlit di event POPDA 2025 yang hanya menempatkan Kota Bekasi diurutan ke 11 dari 27 Kota dan Kabupaten se-Jawa Barat.
Hal ini menjadi sorotan, karena panglima tinggi olahraga di Kota Bekasi atau Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Bekasi dipimpin langsung Walikota Bekasi, Tri Adhianto.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Bekasi, R. Eko Setyo Pramono, menilai penurunan prestasi tidak lepas dari lemahnya pembinaan dan minimnya pendanaan bagi para atlet Kota bekasi.
“Menurut saya, perlu ada transparansi. Jangan ditutup-tutupi. Kita ingin Kota Bekasi benar-benar bisa menjadi sport city dan sport industry. Sport industry itu kan berarti mencetak prestasi, membuat sesuatu yang ada nilainya,” terang politisi asal Gerindra ini.
Bahkan, kata Eko, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di level Internasional. Atlet kita butuh dukungan, baik secara finansial maupun pembinaan jangka panjang. Jangan sampai semangat mereka padam hanya karena kurangnya perhatian dari pemerintah maupun KONI.
Eko juga menyoroti manajemen di tubuh KONI Kota Bekasi yang dinilai kurang solid, sehingga jauh dari harapan, bukan tambah maju malah terasa semakin merosot pretasinya.
“Kalau Ketuanya hanya satu orang, tapi dibawahnya berantakan, ya ini yang jadi masalah. Saya sendiri sebagai Ketua Cabor merasakan betul bagaimana cabang olahraga kurang diperhatikan,” ujarnya.
“KONI punya program bina atlet, tapi faktanya tidak berkembang. Ditanya rencana kerja, tidak ada. Bahkan dihubungi pun susah,” sambungnya.
Eko menambahkan, penurunan ini terasa kontras jika dibandingkan dengan prestasi Jawa Barat ditingkat Nasional. Pada PON XIX tahun 2016, Jawa Barat berhasil keluar sebagai juara umum dengan torehan 217 emas, 157 perak dan 157 perunggu.
Prestasi tersebut, lanjut Eko, kembali diulang pada PON XX Papua 2021, ketika Jabar mempertahankan gelar juara umum dengan meraih 133 emas, 105 perak dan 115 perunggu.
“Artinya, Jawa Barat punya potensi besar. Kalau di level Provinsi bisa jadi juara umum, seharusnya di level Kota pun bisa melahirkan atlet-atlet berprestasi,” imbuhnya.
Masalahnya ada di manajemen dan keberpihakan terhadap atlet. Kedepan ia berharap ada roadmap pembinaan jangka panjang. Kita harus punya target, misalnya di PON 2028 nanti, Kota Bekasi bisa menyumbang lebih banyak medali.
“Harapan itu hanya bisa dicapai kalau manajemennya diperbaiki sejak sekarang. Semoga ini menjadi perhatian,” pungkasnya. (Ronny)






