Obon Tabroni: Alat Uji Corona Pemkab Bekasi Memperhatinkan

Dewan Obon Tabroni

BERITA BEKASI – Kunjungi Labkesda Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bekasi, Anggota Komisi IX DPR RI, Obon Tabroni, kaget dengan kondisi yang memperihatinkan dan tidak layak pakai.

“Tempat ini (Labkesda) adalah satu-satunya tempat milik Kabupaten Bekasi untuk mengetahui apakah sample dari Orang Dalam Pengawasan (ODP) atau Pasien Dalam Pengawasan (PDP) itu negatif atau positif dari paparan virus Covid-19. Tapi sangat disayangkan dengan kondisinya,” kata Obon Tabroni kepada Beritaekspres.com, Selasa (5/5/2020).

Ditemui Tenaga Medis yang bertugas, Obon mendapat penjelasan, bahwa kondisi Labkesda saat ini hanya memiliki satu unit mesin atau alat pengecekan Polymerace Chain Reaction (PCR). Akibatnya, satu pengecekan sample membutuhkan waktu selama 3-4 hari baru bisa diketahui hasilnya.

Dijelaskannya, saat ini tim medis sudah kerja shift untuk mengejar target pengecekan dari semua sample yang masuk. Karena jumlahnya sample meningkat maka harus menyesuaikan. “Sekarang tim medis hanya sanggup mengerjakan 30 sample dalam satu hari,” ungkapnya.

Kepada Obon, para tenaga medis ini menyampaikan harapan agar dapat disuarakan penambahan Unit PCR dan Fasilitas pendukung bagi para Tenaga Medis yang bertugas.

“Mohon kami di perhatikan secara serius agar tugas kami bisa berjalan lancar dan masyarakat dapat kami layani dengan baik,” ucap salah seorang tugas medis.

Disinggung Obon, tentang insentif dan lainnya seperti tambahan extra fooding atau supplement bagi tenaga medis yang bekerja, mereka hanya menjawab kalau memang dapat diupayakan mereka sangat bersyukur. Karena sampai hari ini tenaga medis belum pernah mendapat bantuan berubah suplemen gizi.

Dalam kesempatan ini, Obon meberikan sejumlah bingkisan yang ditujukan langsung bagi para tenaga medis yang bertugas berupa supplemen dan lainnya yang diterima oleh perwakilan UPTD.

Hal lain Obon, menegaskan bahwa kondisi ini tidak dapat dibiarkan. Sebab pandemi ini masalah yang sangat serius maka harus siap segala sesuatunya.

“Bekasi ini sangat luas dan jumlah penduduknya cukup padat, sangat ironis kalau laboratorium kesehatan kita yang hanya ada satu ini sangat memprihatinka. Kalau kondisinya seperti ini saya khawatir jumlah pasien akan terus bertambah. Dan tentu kita akan sulit atau lambat memetakan daerah mana yang menjadi zona merah atau zona aman dari paparan COVID-19,” pungkasnya. (Mul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *