BERITA BEKASI – Permasalahan yang tengah dihadapi di wilayah Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi adalah masih kurangnya kesadaran masyarakat dengan sering ditemukannya sampah diberbagai sudut maupun dipinggir jalan.
Terutama, bagi para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang ada di wilayah Kebalen seperti di Kawasan Perumahan baik yang menetap setiap hari berjualan maupun dadakan setiap Sabtu dan Minggu, tanpa pengelolaan yang jelas, sehingga memperparah keberadaan sampah.
Belum lama, Kelurahan Kebalen bersama UPTD Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Kepolisian dan TNI, melakukan penutupan secara permanen, terhadap salah satu akses atau lokasi yang selama ini dimanfaatkan menjadi tempat pembuangan sampah illegal.
Berdasarkan informasi bahwa akses yang sudah ditutup secara permanen dengan tembok yang berlokasi diseberang Jalan depan Gerbang Perumahan Taman Kebalen tersebut, bukan satu-satunya lokasi yang menjadi tempat pembuangan sampah illegal.
Pasalnya, kabar yang beredar, ratusan warga Perumahan Taman Kebalen dalam waktu dekat pun bakal menyambangi Kantor Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk meminta penindakan terhadap lokasi yang kini dijadikan tempat pengelolaan sampah yang diduga illegal yang berada diwilayah Perumahan mereka.
Menanggapi hal tersebut, Ketua RT 001 RW 024, Perumahan Villa Gading Harapan (VGH), Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Padmono mengatakan, persoalan sampah merupakan persoalan bersama tidak bisa hanya bergantung kepada Pemerintah Daerah.
“Persoalan sampah adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, bukan hanya tugas Pemerintah atau Dinas Kebersihan. Tanpa didukung kesadaran masyarakat, maka persoalan sampah akan sulit diatasi,” terang Padmono, Senin (5/10/2026).
Untuk itu, Padmono selaku Ketua RT 001 RW 024, Perumahan VGH Kebalen, bergerak memulai dari lingkungan sendiri dengan menggerakan anak-anak Karang Taruna RT 001 untuk belajar peduli lingkungan melalui program Bank Sampah.
“Kondisi inilah yang memunculkan insisiatif untuk melibatkan Karang Taruna sebagai agen perubahan dilingkungan sambil mendidik generasi muda agar cinta lingkungan, melatih jiwa kewirausahaan serta membantu Pemerintah mengatasi sampah di TPA,” tuturnya.
Selain kegiatan sosial, kata Padmono, pemberdayaan Karang Taruna merupakan bentuk nyata dari pembangunan berbasis masyarakat. Dalam konteks pengelolaan sampah ini keberhasilan program tidak hanya bergantung pada teknologi, tapi juga pada efektivitas warga.
“Pendekatan yang paling tepat adalah partisipatif agar anggota Karang Taruna atau anak-anak kita yang ada dilingkungan tidak sekedar menjadi objek program, tetapi juga berperan aktif sebagai agen perubahan yang dimulai dari lingkungannya sendiri,” ulas Padmono.
Padmono berujar, untuk sisa sampah rumah tangga selain kardus, botol dan plastic yang dikelola anak-anak Karang Taruna RT 001, diangkut mobil truck dari UPTD Kebersihan yang sudah bekerjasama secara resmi setiap dua minggu sekali diwilayah RW 024.
“Jadi anak-anak kita Karang Taruna RT 001 setiap minggu mereka keliling pakai gerobak kerumah-rumah untuk mengambil sampah keringnya seperti botol, kardus dan plastic. Karena sebelumnya, kita pengurus RT 001, sudah instruksikan warga untuk sampahnya dipisah,” kata Padmono.
Selanjutnya, tambah Padmono, mereka kumpulkan sambil dipisah-pisah seperti kardus, botol dan plastic. Alat untuk gencet botol plastic juga agar tidak memakan tempat, sudah disipakan atau dibuat sendiri oleh bapak-bapaknya secara manual.
“Artinya, tercipta kerjasama yang baiklah dilingkungan. Anak-anak ini juga sambil mengerjakan tugasnya juga sambil bercengkrama satu sama lain, sehingga terjadi interaksi anak-anak dilingkungan juga bisa mengurangi kecanduan main dan gatget dirumah,” pungkas Padmono. (Tim)






