Penggiat Literasi “Rasa Adil Karbitan”

- Jurnalis

Sabtu, 11 April 2026 - 08:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teks Photo: Ilustrasi

Teks Photo: Ilustrasi

MENJADI guru honorer adalah pengabdian besar untuk Negara. Tapi gajinya hanya Rp300.000 hingga Rp2.500.000 per bulan.

Jauh dari jerih payah mencerdaskan anak bangsa. Namun, karena ketulusan, mereka tak henti mengajar.

Apa gaji guru honorer masih dianggap wajar, sehingga tak perlu protes? Padahal pejabat dan semua profesi lain dididik lebih dulu oleh guru.

Jasanya besar. Tapi tuntutan kesejahteraan guru lewat berbagai aksi sepertinya kurang didengar.

Kini sekolah diminta WFH seminggu sekali demi efisiensi BBM. Apakah sekolah paling boros BBM? Ironisnya, saat WFH pun guru tetap wajib ke sekolah untuk mengambil paket Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa.

Apa semua guru punya sepeda? Bagaimana yang rumahnya jauh?

Di saat guru disuruh irit, ada yang dimanjakan anggaran. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah Badan Gizi Nasional (BGN) memfasilitasi karyawannya dengan mobil listrik.

Beli atau sewa, tetap butuh modal besar untuk puluhan ribu unit. Ada juga anggaran Rp6,9 miliar untuk kaos kaki 100 ribu karyawan.

Tak habis piker, anggaran untuk kesejahteraan guru serasa sulit, tapi untuk operasional MBG lancar jaya. Dalihnya, MBG untuk gizi biar siswa cerdas. logikanya lemah.

Tanpa MBG, siswa tidak lantas busung lapar atau bodoh. Tanggung jawab utama gizi anak ada di keluarga. Negara boleh hadir membantu, tapi jangan sampai mengorbankan guru yang mendidiknya.

Faktanya, MBG justru ada kasus keracunan, sementara orang tua pasti tak akan memberi anaknya asupan berbahaya.

Dari pada anggaran besar untuk motor listrik dan MBG, lebih baik buka peluang kerja lain yang lebih berdampak.

Katanya Presiden menargetkan 19 juta lapangan kerja dalam 5 tahun, tapi di mana realisasinya? Program MBG juga banyak dikritik, bahkan digugat ke Mahkamah Agung (MK).

BGN rezekinya mengalir deras. Ada motor listrik, ada gaji, sampai memangkas anggaran sektor lain. Sementara guru honorer tetap ikhlas dan bersyukur dengan gaji seadanya, inilah rasa adil yang karbitan.

 

Oleh: Fanji Setiaji (Penggiat Literasi)

 

Berita Terkait

Pudding Merah Putih Apresiasi Bu RT 001 Ditengah Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-81   
Soal Tabungan Qurban, Ini Kata Ketua RT 01 RW 024 Perumahan VGH Kebalen
Tahun 2026, RT 001 RW 024, Perum VGH Mulai Menggiatkan KATAR
Maknai Hari Pahlawan, Ini Kata Ketua RW di Bekasi Sahid Sutomo
Tawon Vespa Resahkan Warga Kampung Walahir Kabupaten Bekasi
Soal Video Mumtaz, Pengamat: Hanya Mengejar Elektabilitas Digital Semata
Dapat Rutilahu, Warga Karang Reja Pebayuran Ucapkan Terimakasih
Kasus Isoman, Walikota Bekasi Kumpulkan Para Pejabat Pemkot Bekasi
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 12:04 WIB

Pudding Merah Putih Apresiasi Bu RT 001 Ditengah Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-81   

Kamis, 28 Mei 2026 - 23:06 WIB

Soal Tabungan Qurban, Ini Kata Ketua RT 01 RW 024 Perumahan VGH Kebalen

Sabtu, 11 April 2026 - 08:02 WIB

Penggiat Literasi “Rasa Adil Karbitan”

Minggu, 28 Desember 2025 - 23:00 WIB

Tahun 2026, RT 001 RW 024, Perum VGH Mulai Menggiatkan KATAR

Sabtu, 13 November 2021 - 18:27 WIB

Maknai Hari Pahlawan, Ini Kata Ketua RW di Bekasi Sahid Sutomo

Berita Terbaru

Tim-9 Kejaksaan Agung

Berita Utama

Kasus TPPU Senilai Rp846 Miliar Febrie Adriansyah Segera Dilimpahkan

Selasa, 15 Sep 2026 - 19:20 WIB

Photo: Gedung KPK

Berita Utama

Apresiasi Kinerja KPK, AKHERA Ingatkan Kepastian Hukum dan Keadilan

Selasa, 15 Sep 2026 - 18:41 WIB

Photo: Atlit Bowling Kabupaten Sukabumi

Olahraga

Cabor Bowling Kabupaten Sukabumi Targetkan Raih Medali Emas

Selasa, 15 Sep 2026 - 09:47 WIB