Abdullah Hehamahua: Menyoal Power Turn to Corrupt

Foto: Abdullah Hehamahua

BERITA JAKARTA – Munculnya dugaan Konsorsium 303 dalam penanganan kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J dirumah dinas mantan Kadiv Propam, Irjen Ferdy Sambo.

Hal itu, merupakan implikasi dari kekuasaan yang mendominasi hingga menjurus kepada korupsi atau power turn to corrupt.

Salah satunya adalah Satuan Tugas Khusus (Satgasus) Merah Putih yang pernah dipimpin Ferdy Sambo.

Meski saat ini, Satgasus Merah Putih telah dibubarkan Kapolri Listyo Sigit Prabowo dari institusi Polri per 11 Agustus 2022.

“Pertanyaannya, mengapa Kapolri berani membentuk Satgasus tersebut tanpa sepengetahuan Presiden?. Padahal, Presiden adalah atasan langsung polisi,” ujar mantan penasehat KPK, Abdullah Hehamahua, Minggu (4/9/2022).

Secara struktural organisasi tutur Abdullah, TNI berada di bawah kendali Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam), sementara polisi di bawah Presiden.

Sebab itu menurut Abdulah, dalam dunia korupsi dikenal istilah power turn to corrupt. Karena power turn to corrupt tersebut berpotensi akan menciptakan “raja kecil” dalam sebuah institusi pemerintahan.

“Secara operasional, mayoritas pimpinan lembaga negara dan kementerian dijabat oleh polisi. Oleh sebab itu, apa saja yang dibuat polisi, tidak ada yang bisa dihalangi,” tutur dia.

Abdullah menuturkan polisi di Indonesia itu adalah tentara yang berpakaian coklat. Bahkan senjata polisi pun dianggap lebih canggih dari TNI.

“Jadi wajar saja, jika lembaga ini diduga terlibat dalam kegiatan narkoba, judi online dan money laundry,” pungkasnya. (Sofyan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *